Sandiaga Uno Jago Bisnis, Presiden Jokowi : Membangun Negara Bukan Seperti Bangun Perusahaan

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Ketua Inasgoc Erick Thohir meninjau area Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2018).

Presiden jokowi mengungkapkan itu saat diwawancara Pemred Harian Kompas, Budiman Tanuredjo, dalam acara Satu Meja The Forum yang diposting di akun youtube KompasTV dengan judul '4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK -Satu Meja : The Forum'.

Presiden Jokowi memulai penjelasan itu dengan mengatakan bahwa dalam jangka panjang Indonesia ingin berbelok dari tumpuan ekonomi yang didukung konsumsi, menjadi sebuah pertumbuhan ekonomi yang didukung produksi. 

Namun Untuk mencapai hal itu perlu dilakukan industrialisasi dan hilirisasi.

Berikutnya, kata  Presiden Jokowi, untuk melakukan industrialisasi juga butuh banyak syarat.

Syarat-syarat yang dibutuhkan,antara lain kesiapan infrastruktur, kemudahan perizinan, keinginan berkaitan ketenagakerjaan. 

"Ini satu per satu pondasi ini harus kita siapkan.Sehingga memang kita harus siapkan infrastruktur terlebih dahullu," kata Presiden Jokowi. 

Makanya di tahun 2015 terjadi loncatan besar dalam anggaran infrastruktur sampai 87 persen.

Bahkan tahun 2018 anggaran infrastruktur Indonesia sudah mencapai  Rp 400 triliun. 

"Arahnya memang menyiapkan infrastruktur dalam rangka Global Competitiveness Indeks," ujar Presiden Jokowi

Hal itu dilakukan agar semakin tahun semakin baik daya saing Indonesia, dan agar pembangunan tidak hanya dilakukan di jawa, tetapi juga diluar pulau jawa.

"Sehingga tidak jawa sentrism, tapi Indonesia sentris. Baik pembangunan airport baru, atau terminal baru, atau perpanjangan runaway, atau kemudian pelabuhan baik yang sedang, besar atau kecil, karena kita memiliki 17000 pulau. Kemudian pembangunan tol tidak hanya di jawa, tapi juga diluar jawa.

Begitu juga dengan pembangunan jalan tol yang masif juga akan membuat arus barang lebih mudah. 

Sehingga ketika seluruhnya sudah terkonsolidasi, maka Indonesia siap memasuki era industrialisasi. 

 Bukan Bangun Perusahaan

Budiman Tanuredjo lalu bertanya alasan Presiden Jokowi memilih membangun infrastruktur di Papua dimana penduduknya tergolong sedikit. 

Presiden Jokowi pun mengatakan bahwa membangun infrastruktur jangan hanya dihitung urusan ekonominya saja

"Infrastriuktur ini juga mempersatukan,konektivitas antar pulau, antar  kabupaten-kota. Ini akan mempersatukan kita. Kita ini negara besar ada 17.000 pulau, 34 propinsi," ujar Presiden Jokowi.

Menurut Presiden Jokowi, banyak orang sering berhitung hanya urusan ekonominya saja terkait  Papua. 

"Kalau kita ingin return ekonominya cepet,return politiknnya juga cepet, ya bangun aja di jawa. Bangun super koridor di jawa sebelah utara. Sangat mudah, kurang dikit mengenai tenaga listriknya. Kurang dikit tambah pelabuhannya. Kurang dikit ,jalan tolnya, ya disitu aja udah," ujar Presiden Jokowi.

Namun menurut Presiden Jokowi hal itu namanya bukan pemerataan dan bukan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. 

"Membangun negara itu bukan hanya seperti membangun bisnis atau membangun perusahaan. Ada sisi keadilan sosial,ada sisi pemerataan yang juga harus kita itung. Kalau kita ingin return politik yang gede ya kita bangun aja di jawa, terus-terusan udah. Penduduknya 60 persen ada di jawa. Infrastruktur juga mendekat siap, tinggal ditambah sedkit-sedikit. saya kira ini membangun ekonomi negara, bukan hanya membangun jawa," kata Presiden Jokowi.