Bos Tempat Buang Sampah Terima Rp 36 Juta per Bulan
Diduga sarat pungutan liar (pungli), Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) Kecamatan Pancoran kini tidak terkendali.
WARTA KOTA, JAKARTA - Diduga sarat pungutan liar (pungli), Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) Kecamatan Pancoran kini tidak terkendali. Tidak hanya gagal terdistribusi, gunungan sampah pun kian memicu konflik.
Walau dianggap menjijikan dan diketahui sebagai sumber penyakit, tidak dipungkiri kalau perputaran uang dalam bisnis pengelolaan sampah kian menggiurkan saat ini.
Selain diproduksi setiap hari, terbatasnya jumlah TPS pun memicu sebagian pihak untuk memanfaatkan TPS guna kepentingan pribadi.
Berdasarkan penuturan EK (46), seorang petugas sampah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, setidaknya seorang pengelola TPS berhasil mengumpulkan uang hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Pendapatan tersebut, diungkapkannya, berasal dari setoran petugas sampah gerobak seperti dirinya maupun yang menggunakan sepeda motor dan mobil.
Dirinya merinci, kalau uang yang disetorkan rutin kepada pengelola TPS setiap tanggal 10 per bulan itu memiliki besaran nilai yang beragam disesuaikan dengan alat angkut yang digunakan, yakni sebesar Rp 300.000 per bulan untuk gerobak dorong, Rp 600.000 per bulan untuk sepeda motor, dan Rp 1 juta per bulan untuk mobil.
"Kalo mau buang sampah ke situ (TPS--Red) kita semuanya harus setor ke koordinatornya setiap bulan, biayanya juga beda-beda tergantung ukuran gerobaknya, pakai motor atau mobil," ungkap pria asli Mojokerto, Jawa Tengah, itu menyebutkan.
Sehingga apabila uang setoran dikalikan dengan jumlah petugas sampah seperti dirinya, pendapatan seorang koordinator TPS diperkirakan mencapai lebih dari Rp 36 juta per bulan.
Jumlah tersebut dikalikan dengan jumlah petugas sampah gerobak dorong seperti dirinya yang mencapai sebanyak 120 orang serta petugas sampah sepeda motor dan mobil yang diperkirakan mencapai lebih dari 20 orang.
"Duit Rp 36 juta aja itu kalo cuma dikali sama tukang sampah gerobakan aja, (pendapatan-red) itu belum ditambah sama tukang sampah motor sama mobil," ujar pria beranak tiga itu menjelaskan.
Dirinya pun mengatakan kalau keseluruhan sampah tersebut dikelola langsung oleh pihak Dinas Kebersihan. Sehingga beberapa petugas sampah yang berasal dari luar wilayah Kecamatan Pancoran bisa dengan leluasa membuang sampah di TPS tersebut.
"Ya kalo bukan orang Dinas Kebersihan sendiri, saya nggak bakalan bisa begini (buang sampah--Red). Saya aja dari Tebet, tapi karena TPS-nya jauh, mending saya buang ke sini," tutumya.