Selasa, 7 April 2026

JELAJAH MUSEUM

Intip Pesona Wayang Kyai Intan Di Museum Wayang

Wayang kulit Kyai Intan merupakan salah satu koleksi unggulan yang dipamerkan di Museum Wayang. Di Yogyakarta, keberadaan wayang ini sudah sangat dikenal sebagai wayang yang bernilai tinggi.

|

Tamansari, Wartakotalive.com

Wayang kulit Kyai Intan merupakan salah satu koleksi unggulan yang dipamerkan di Museum Wayang. Di Yogyakarta, tempat asalnya, keberadaan wayang ini sudah sangat dikenal sebagai wayang yang bernilai tinggi. Wayang ini sendiri dibuat oleh Ki Guna Kerti dan kawan-kawannya, merupakan prakarya seorang Tionghoa bernama Babah Palim dari Muntilan, Jawa Tengah yang dibuat pada tahun 1870.

Wayang Kulit Kyai Intan ini mempunyai spesifikasi tertentu, wandanya sama saja dengan bentuk standar wayang kulit dari Yogyakarta maupun wayang kulit lainnya. Bahan dasar untuk membuat wayang kulit ini adalah kulit kerbau pilihan dengan tebal dan kehalusan kulitnya.

Cat yang dipergunakan untuk menyungging wayang kulit intan tidak sama dengan cat yang dipergunakan sekarang ini, yaitu cat sakura. Cat ini menggunakan bahan-bahan tradisional seperti bubuk tulang sapi atau kerbau untuk warna putih, akar-akar pohon (kulit pohon), daun, biji-bijian, untuk warna hijau, kuning, biru dan warna hitam dengan jelada yang dicampur dengan minyak kelapa, sedang warna merah dipergunakan dengan batu kali yang masih lembek dijemur dan ditumbuk halus kemudian dicampur minyak, hasilnya: warna tidak lekas pudar dan awet.

Untuk menambah moncernya wayang kulit, maka ditaburi dengan intan atau yakut agar wayang tersebut mempunyai nilai yang cukup tinggi, baik dilihat dari keindahan wayang maupun harga diri si pemesan.

Bagian-bagian yang ditaburi intan mengikuti pakaian yang dikenakannya, kecuali kelat bahu atau gelang tangannya. Pembuat wayang memasang intan pada sambungan tangan, sumping, giwang (anting-anting), jamang, garuda, mungkur, bagian leher (kalung), sabuk, kepuh, manggaran, kuncu, dan mahkota.

Wayang Kyai Intan ini juga dibuat bersamaan dengan satu unit Gamelan Jawa (Pelog dan Slendro) lengkap. Uniknya, gamelan ini terdiri dari tumbuk lima karena umumnya Gamelan sekarang tumbuk nada enam. Wayang dan Gamelan menjadi koleksi Museum Wayang sejak tahun 1975.

FERYANTO HADI
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved