Selasa, 28 April 2026

Berita Internasional

Iran Tangkap 700 Mata-mata Selama 12 Hari Perang Lawan Israel 

Pemerintah Iran melancarkan operasi intelijen besar-besaran dengan menangkap lebih dari 700 orang yang diduga bekerja sebagai mata-mata untuk Israel

Editor: Joanita Ary
Instagram @luarbioskop
IRAN TANGKAP MATA-MATA -- Perang 12 Hari Lawan Israel, Iran Tangkap 700 Mata-mata 

WARTAKOTALLIVECOM -- Sehari setelah berakhirnya konflik udara selama 12 hari antara Iran dan Israel yang dimulai pada 13 Juni dan berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni.

Pemerintah Iran melancarkan operasi intelijen besar-besaran dengan menangkap lebih dari 700 orang yang diduga bekerja sebagai mata-mata untuk Israel.

Operasi ini digelar di berbagai provinsi, termasuk Kermanshah, Isfahan, Khuzestan, Fars, Lorestan, dan wilayah Azerbaijan Barat, di mana aparat keamanan dan intelijen negara menyisir jaringan pengintaian yang diduga memasok informasi militer untuk Mossad.

Salah satu hasil paling dramatis dari operasi ini adalah eksekusi tiga pria di Penjara Urmia, Provinsi Azerbaijan Barat, pada Rabu pagi.

Para pria tersebut adalah Idris Ali, Azad Shojai, dan Rasoul Ahmad Rasoul dihukum mati dengan dakwaan spionase berat, mengimpor peralatan dengan kedok pengiriman alkohol, dan menyiapkan peralatan untuk tindakan pembunuhan terhadap tokoh penting Iran atas nama agen intelijen Israel.

Kantor berita resmi IRNA dan Mizan menegaskan bahwa ketiganya terbukti bersalah dalam persidangan yang terkait dengan kegiatan Mossad untuk melemahkan keamanan nasional Iran .

Menurut laporan Fars News Agency, penangkapan terhadap ratusan warga ini adalah bagian dari rangkaian tindakan hukum dan keamanan yang diperluas, termasuk rencana revisi undang-undang anti-spionase agar instansi keamanan mendapat wewenang lebih luas.

Beberapa pejabat Iran menyatakan bahwa selama konflik itu berlangsung, kekhawatiran terhadap infiltrasi intelijen Israel sangat tinggi, sehingga aparat melakukan razia di rumah-rumah dan tempat ibadah untuk menangkap terduga mata-mata serta mencegah potensi sabotase dan subversi .

Langkah tegas ini mencerminkan strategi ganda Iran: selain meladeni konflik militer dengan Israel, pemerintah juga mengokohkan kontrol internal.

Eksekusi yang disiarkan secara terbuka terlihat sebagai pesan kuat untuk menakut-nakuti dan memperingatkan pihak-pihak dalam negeri agar tidak memihak pihak luar.

Seruan keras terhadap serangan “spionase, propagandis, dan teror” dari Israel dan Barat menegaskan bahwa rezim Iran akan menggunakan jalur hukum dan kekerasan demi menjaga stabilitas di tengah situasi tegang .

Kekhawatiran atas penangkapan dan eksekusi masif juga menimbulkan kegelisahan di kalangan kelompok aktivis dan komunitas minoritas, terutama di provinsi Kurdi.

Sejumlah tokoh HAM dan LSM internasional memperingatkan bahwa proses hukum berjalan cepat dan sering kali tidak transparan, serta prediksi lebih banyak tahanan dapat dijerat hukuman mati dalam waktu dekat .

Dengan mengakhiri konflik luar dan melancarkan tindakan represif dalam negeri, Iran hendak menunjukkan bahwa meski digempur dari luar, struktur negara dan loyalitas terhadap pemerintah tak tergoyahkan.

Namun metode represif seperti eksekusi publik dan razia besar-besaran juga meningkatkan kecemasan tentang pengekangan kebebasan sipil dan perlindungan hak asasi manusia di negara tersebut, serta memunculkan debat global mengenai batasan pengawasan intelijen dan hukum antarnegara di era konflik modern.

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved