Kamis, 30 April 2026

Kesehatan

Peringatan buat Pria Ukuran Celana Sudah 33, Siap-siap Menghadapi Kematian

Waspada buat para pria berukuran celana jeans 33 atau lebih siap-siap meninggal. Pertanda adanya lemak menempel di organ-organ penting

Tayang:

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Waspada buat para pria berukuran celana jeans 33 atau lebih siap-siap meninggal.

Hal ini dikatakan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan pernyataannya pria dengan ukuran celana jeans 33 atau lebih yang disebut bisa "lebih cepat menghadap Allah".

Menurut Budi, pernyataan tersebut merupakan analogi untuk menggambarkan bahaya visceral fat, atau lemak dalam rongga perut yang membungkus organ-organ penting.

“Gini ya, lever ini, kalau lemak itu kita makan, normalnya masuk di bawah kulit subcutaneous. Kalau dari situ lebih, dia nempel ke organ (lain), jantung, lever, ini. Itu namanya visceral fat, ini bahaya,” ujar Budi dikutip dari pemberitaan Kompas.com sebelumnya, Rabu (14/5/2025).

Ia menambahkan, kelebihan lemak yang menempel di organ bisa memicu pelepasan pro-inflamasi sitokin, zat yang dapat menyebabkan peradangan dalam tubuh dan meningkatkan risiko penyakit kronis.

Baca juga: Nutrifood, Kemenkes, dan BPOM Sarankan Cek Label Gizi pada Makanan Kemasan untuk Cegah Obesitas

“Jadi memang sebaiknya kita harus menurunkan BMI (body mass index) kita di bawah 24. BMI 24 kan susah ngomongnya, yang lebih gampang adalah lingkar perut laki-laki di bawah 90, lingkar perut wanita di bawah 80,” tambah Budi.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat topping off Institut Neurosains Nasional (INN) di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Senin (15/10/2024).
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat topping off Institut Neurosains Nasional (INN) di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Senin (15/10/2024). (Istimewa)

“Itu baik buat kesehatan supaya kita tidak ada visceral fat-nya, supaya tidak keluar yang pro-inflammatory sitokin itu,” imbuhnya.

Apa itu visceral fat dan mengapa berbahaya?

Visceral fat adalah lemak yang tersimpan di dalam rongga perut, membungkus organ-organ seperti hati, pankreas, dan usus.

Lemak ini tidak tampak dari luar, namun bersifat aktif secara metabolik dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.

Sebuah ulasan dari jurnal Nature Reviews Endocrinology menyebut bahwa visceral fat memproduksi adipokin dan sitokin inflamasi seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α).

Senyawa ini berperan dalam proses inflamasi kronis yang menjadi akar berbagai penyakit, termasuk:

Penyakit jantung koroner

Diabetes tipe 2

Sindrom metabolik

Resistensi insulin

Beberapa jenis kanker

Baca juga: Bahaya Obesitas bisa Ganggu Fisik dan Mental, Atasi Pakai Rumus CERDIK

Dalam studi lain yang diterbitkan di The Lancet Diabetes & Endocrinology, peneliti menegaskan bahwa akumulasi visceral fat lebih berkaitan erat dengan mortalitas dini dibanding lemak subkutan, bahkan pada individu dengan indeks massa tubuh (BMI) yang normal.

Pria lebih rentan terhadap visceral fat

Secara biologis, pria cenderung menyimpan lemak di bagian perut dibandingkan wanita yang cenderung menyimpan lemak di paha dan pinggul.

Karena itu, pria memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan visceral fat, terutama jika pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik.

Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebut ukuran lingkar perut atau bahkan celana jeans bisa menjadi indikator awal.

“Pokoknya laki-laki kalau beli celana jeans masih di atas 32-33. Ukurannya berapa celana jeans? 34-33. Sudah pasti obesitas. Itu menghadap Allah-nya lebih cepat, dibandingkan dengan yang celana jeans-nya 32,” ucap Budi.

“Saya bukannya body shaming, tapi memang artinya begitu,” tambahnya.

Bagaimana cara mengurangi visceral fat?

Menurut Harvard Health Publishing, cara efektif menurunkan visceral fat antara lain:

-> Membatasi konsumsi makanan ultra-proses dan tinggi lemak trans

-> Rutin berolahraga, terutama aktivitas aerobik (jalan cepat, bersepeda, berenang)

-> Mengurangi konsumsi gula tambahan dan minuman manis

-> Menjaga pola tidur dan mengelola stres. (*)

Sumber : Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved