Sabtu, 9 Mei 2026

Paus Fransiskus Meninggal Dunia

Berikut Cara dan Proses Pemilihan Sosok yang Bakal Gantikan Mendiang Paus Fransiskus

Konklaf Kepausan akan memberikan suara untuk memilih Paus baru atau penerus Paus Fransiskus yang wafat pada Senin (21/4/2025).

Tayang:
Editor: Sigit Nugroho
Sumber: Vatican Media
PENGGANTI PAUS FRANSISKUS - Pemimpin Katolik Dunia Paus Fransiskus meninggal dunia, Senin (21/4/2025). Konklaf Kepausan akan memberikan suara untuk memilih Paus baru atau penerus Paus Fransiskus. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pemimpin Katolik Dunia Paus Fransiskus meninggal dunia, Senin (21/4/2025).

Vatikan mengumumkan, Paus Fransiskus meninggal di usia 88 tahun setelah jalani perawatan di rumah sakit terkait infeksi pernapasan yang kompleks. 

Setelah Paus Fransiskus wafat, maka perlu dipilih penerus atau pengganti.

Dikutip dari aljazeera.com, penunjukkan sosok penggenti atau penerus Paus Fransiskus akan dilakukan oleh para Kardinal yang berusia di bawah 80 tahun saat Paus meninggal atau mengundurkan diri.

Para Kardinal yang akan memberikan suara dalam pemilihan Paus baru dikenal sebagai Konklaf Kepausan. 

Untuk mencegah pengaruh luar, konklaf tersebut mengunci diri di Kapel Sistina dan berunding mengenai calon penggantinya.

Meskipun jumlah pemilih Paus biasanya dibatasi hingga 120 orang, tetapi saat ini terdapat 138 pemilih yang memenuhi syarat.

Para anggotanya memberikan suara mereka melalui pemungutan suara rahasia yang prosesnya diawasi oleh sembilan kardinal yang dipilih secara acak.

Baca juga: Berikut Kardinal yang Berpeluang Jadi Pengganti Paus Fransiskus, Bisa Berasal dari Asia atau Afrika

Paus baru akan terpilih jika memiliki mayoritas 2/3 dari jumlah pemilih suara.

Pemungutan suara akan terus dilakukan hingga ambang batas ini terpenuhi.

Setiap putaran pemilihan selesai dilakukan, surat suara akan dibakar dengan bahan kimia yang bakal menghasilkan asap hitam atau putih.

Warna asap itu akan memberi sinyal kepada dunia tentang hasil pemilihan Paus baru.

Asap hitam menandakan bahwa belum ada keputusan yang dibuat, sedangkan asap putih berarti Paus baru telah terpilih.

Setelah paus terpilih, seorang Kardinal terkemuka akan mengumumkan namanya dari Basilika Santo Petrus.

Kapan Konklaf Kepausan Dibentuk?

Konklaf Kepausan dibentuk pada dua atau tiga minggu setelah wafatnya atau pengunduran diri Paus yang sedang menjabat.

Hal ini memungkinkan masa berkabung selama sembilan hari dan para Kardinal dari seluruh dunia untuk datang ke Vatikan.

Konklaf tahun 2013 yang memilih Paus Fransiskus dimulai hanya 12 hari setelah pengunduran diri pendahulunya, Benediktus XVI.

Baca juga: Mengenang Kesederhanaan Paus Fransiskus di Indonesia, Tolak Mobil Mewah dan Duduk di Samping Sopir

Waktu untuk Memilih Paus Baru

Proses pemilihan Paus baru bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan lebih lama, tergantung para Kardinal menyelesaikannya.

Setiap hari, konklaf dapat mengadakan hingga empat putaran pemungutan suara untuk mencoba mencapai mayoritas dua pertiga yang dibutuhkan.

Jika, setelah 33 putaran, masih belum ada keputusan, dua kandidat teratas akan saling bersaing dalam pemungutan suara putaran kedua.

Pemilihan tiga Paus terakhir berlangsung relatif cepat dengan masing-masing hanya berlangsung beberapa hari.

Namun secara historis, pemilihan terkadang berlangsung lebih lama.

Konklaf kepausan yang memilih Paus Gregorius X pada tahun 1271 berlangsung hampir tiga tahun karena pertikaian politik yang sengit.

Pengganti Paus Fransiskus

Kini muncul pertanyaan siapa pengganti Paus Fransiskus untuk jadi pemimpin umat Katolik di dunia yang memiliki 1,39 miliar pengikut.

Dari 138 Kardinal yang memenuhi syarat untuk memberikan suara dalam konklaf, ada 110 yang ditunjuk oleh Paus Fransiskus

Kelompok ini secara signifikan lebih beragam dibanding pemilihan Paus sebelumnya dengan representasi yang lebih banyak dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Hal itu mencerminkan tujuan Paus Fransiskus untuk mencerminkan jangkauan global Gereja Katolik.

Kardinal elektor termuda baru berusia 45 tahun, seorang pendeta Ukraina yang tinggal di Australia.

Baca juga: Inilah Momen Kardinal di Vatikan Umumkan Meninggalnya Paus Fransiskus

Oleh karena itu ada kemungkinan, untuk pertama kalinya selama berabad-abad, Paus berikutnya bisa berasal dari Afrika atau Asia atau wilayah lain yang secara tradisional kurang terwakili dalam kepemimpinan Vatikan.

Dikutip dari aljazeera.com bahwa di antara Kardinal asal Afrika yang berpeluang jadi Paus baru, yaitu Peter Turkson dari Ghana yang merupakan mantan kepala Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian dan Fridolin Ambongo dari Republik Demokratik Kongo yang merupakan Uskup Agung Kinshasa.

Calon yang punya peluang jadi pengganti Paus Fransiskus, yaitu Kardinal Filipina Luis Tagle yang merupakan mantan uskup agung Manila.

Seperti Paus Fransiskus, Tagle menekankan keadilan sosial dan kepedulian terhadap orang miskin.

Baca juga: Paus Fransiskus Meninggal Dunia, Menag Nasaruddin: Jasa & Persahabatan Beliau Tak Bisa Kita Lupakan

Ada juga, Kardinal Hungaria Peter Erdo yang dianggap sebagai kandidat konservatif terkemuka dan bisa jadi jembatan bagi umat Kristen Timur.

Erdo merupakan Uskup Agung Esztergom-Budapest yang telah memperjuangkan penjangkauan kepada umat Kristen Ortodoks.

Sekretaris negara Takhta Suci, Kardinal Pietro Parolin, juga punya peluang jadi Paus baru.

Pasalnya, Pietro memiliki peran diplomatik dan dikenal baik oleh semua Kardinal.

Calon lain yang punya peluang, yaitu Uskup Agung Bologna, Matteo Zuppi dari Italia, dan Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup, Mario Grech dari Malta.

Baca juga: Paus Fransiskus Wafat, Menag Nasaruddin Umar: Jasanya tak Terlupakan

Sebelum terpilihnya pengganti Paus Fransiskus atau terpilihnya Paus baru yang disebut sebagai periode "sede vacante" (kursi kosong) – ketika jabatan kepausan kosong – seorang Kardinal senior, yang dikenal sebagai Camerlengo akan mengesahkan kematian Paus.

Camerlengo akan mengambil alih sementara keuangan dan urusan administratif Vatikan.

Meski begitu, dia tidak memiliki wewenang untuk mengubah doktrin Gereja atau membuat keputusan penting.

Saat ini, Camerlengo adalah Kardinal kelahiran Irlandia Kevin Farrell yang juga menjabat sebagai Presiden Mahkamah Agung Vatikan. (*)

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di WhatsApp.

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved