Berita Jakarta

Pasar Slipi Jaya Riwayatmu Kini, Kios Pedagang Banyak yang Tutup, Wida: Lebih Parah dari Krisis 1998

Bahkan, menurut salah satu pedagang perabot bernama Wida (54), lapaknya itu pernah hanya mendapat 1 pembeli dalam sehari. 

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Nuri Yatul Hikmah
Suasana Pasar Slipi yang lapak-lapaknya mulai ditinggalkan pedagang. 

 


Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Nuri Yatul Hikmah


WARTAKOTLIVE.COM, PALMERAH — Sejumlah lapak pedagang di Pasar Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, nampak tutup dan ditinggalkan penghuninya. 

Pantauan Warta Kota di lokasi, Minggu (17/11/2024), nampak lapak-lapak kosong tersebut berderet di area lantai 2 pasar. 

Lebih dari 10 lapak ditinggalkan oleh penghuninya. Beberapa lapak bahkan nampak gelap dan pintunya berkarat.

Selain itu, rolling door lapak tersebut juga ditempeli surat peringatan dari Pasar Jaya yang berisi tagihan sewa lapak. 

Kendati demikian, masih ada sejumlah pedagang yang menjalankan aktifitas di pasar tersebut.

Mulai dari pedagang sayur mayur, daging ayam/sapi potong, hingga toko perabotan dan alat-alat rumah tangga. 

Meski begitu, pengunjung yang datang ke lapak-lapak pedagang sangatlah sepi, hingga bisa terhitung jari. 

Bahkan, menurut salah satu pedagang perabot bernama Wida (54), lapaknya itu pernah hanya mendapat 1 pembeli dalam sehari. 

"Saya pernah sehari cuma Rp 35.000 saking sepinya," kata Wida saat ditemui di lokasi, Minggu. 

Wida berujar, sepinya Pasar Slipi sudah terjadi sejak 2022 lalu, paska pandemi Covid-19.

Disusul musim lebaran 2024 lalu, Pasar Slipi semakin sepi oleh pembeli.

"Pokoknya udah habis Covid, paling-paling parah banget nih udah dari lebaran lah, itu parah banget," kata Wida.

Bahkan, wanita yang sudah berjualan lebih dari 30 tahun itu menyebut bahwa sepinya Pasar Slipi lebih parah dari pada saat krisis ekonomi 1998.

Ditambah lagi, lanjut Wida, tren berbelanja lewat platform TikTok dan marketplace dengan harga murah, membuat para pedagang akhirnya tak mampu bertahan.

"Emang karena pendapatan enggak ada, gimana mau bayar (lapak)," jelasnya.

"Jam-jam segini (pukul 13.00 WIB) udah enggak ada yang datang. Sama kuburan juga masih ramai kuburan," lanjut Wida.

Pasalnya menurut Wida, para pedagang di Pasar Slipi biasanya berbelanja barang-barang dagangan dari pasar induk atau di Pasar Pagi, Jembatan Lima. 

Sehingga, harga jual yang dilepas para pedagang akan lebih tinggi dibandingkan penjual online.

Belum lagi, Wida menyampaikan bahwa mereka harus membayar biaya sewa lapak sebesar Rp 1,5 juta per-bulan.

"Dari TikTok Shop itu, nah itu yang bikin parah. Kami waktu online kayak Tokopedia (belum parah), kalau sekarang TikTok kan dia langsung dari online, bisa beli apa aja," kata Wida.

"Nah dari situ tuh mulai kayak baju-baju, kayak perabot gini kan emang banyak di TikTok, murah, soalnya enggak sewa tempat. Alhasil, kami kalah," imbuhnya.

Wida sendiri mengaku dirinya dahulu bisa mendapat hasil hingga Rp 10-12 juta sehari. Namun, sudah 1 tahun ke belakang ini, penghasilan Wida sehari bahkan tak sampai Rp 1 juta.

Ia bahkan terpikir untuk selesai mengontrak kios di Pasar Slipi seperti rekan-rekannya.

"Biasanya kami sampai sore. Tapi sekarang pukul 14.00 WIB, paling udah pulang. Orang kondisinya enggak ada yang beli," kata Wida.

"Saya nih nunggu lebaran besok aja dulu, kalau tetap enggak ramai, kepikiran sih apa tutup aja," imbuhnya.

Terkait sepinya Pasar Slipi, Manager Humas Perumda Pasar Jaya, Agus Lamun mengatakan bahwa hal tersebut sama sekali tidak diinhinkan oleh pihaknya.

Pasalnya menurut dia, pihak Perumda Pasar Jaya selaku pengelola, sudah berupaya untuk tetap menjadikan pasar sebagai tujuan masyarakat berbelanja.

"Dan (kami berupaya agar) para pedagang juga bisa terus berusaha di pasar, kata Agus saat dikonfirmasi, Minggu (17/11/2024).

Agus berujar, Pasar Slipi merupakan salah satu pasar yang usianya sudah sangat tua, sehingga menjadi prioritas Pasar Jaya untuk direvitalisasi.

"Di samping itu, beutyfikasi atau pengecatan pasar tahun 2024 sebanyak 64 pasar, salah satunya adalah pasar Slipi yang pelaksanaan pengecatan sudah dilakukan," jelas Agus.

Menurutnya, hal tersebut merupakan upaya pihaknya untuk memberikan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung.

Sementara terkait harga sewa yang disebut-sebut cukup tinggi, hingga membuat pedagang hengkang, Agus tidak menjawabnya.

"Doakan semoga bisa kami realisasikan (revitalisasinya)," pungkas dia. 

Perumda Pasar Jaya gandeng Selebgram

Sebelumnya diberitakan, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya terus membenahi pasar tradisional agar kembali ramai dikunjungi oleh masyarakat yang ingin berbelanja.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan saat ditanya apa saja strategi dan langkah meramaikan pasar tradisional.

Pihaknya akan menggandeng sejumlah selebgram untuk terus memposting kegiatan yang ada di pasar tradisional agar kembali ramai.

"Kami juga ada MoU (dengan Tiktok). Kami juga enggak bisa melarang ibu-ibu belanja secara online," kata Agus, Sabtu (29/6/2024).

Menurut Agus, Perumda Pasar Jaya harus bisa mengikuti perkembangan zaman terutama di era digitalisasi saat ini.

Semua kegiatan berbelanja bisa dilakukan di rumah dengan menggunakan telepon pintar.

Baca juga: Perumda Pasar Jaya Lakukan Inovasi, Pasar Tradisional Sudah Bisa Transaksi Non Tunai

"Kami juga menggelar sejumlah event, kemarin kami juga gelar bazar di acara ulang tahun Jakarta ke-497," tuturnya.

Selain itu, strategi lainnya meramaikan pasar tradisional adalah dengan merangkul seluruh pedagang yang ada.

Agus menengaskan, pihaknya juga sangat terbuka menerima saran dan masukan dari para pedagang terutama program menggelar event.

"Kadang event dapat masukan dari pedagang, itu sih upaya kami," tuturnya.

Sebelumnya, Sejumlah pasar tradisional di Jakarta sudah mulai terlihat kusam dan kumuh serta sering dikeluhkan oleh para pengunjung yang datang untuk berbelanja.

Dari informasi yang dihimpun, para pengunjung yang datang mengeluhkan kondisi pasar yang kotor, becek dan bangunannya tidak terawat.

Namun, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya DKI berkomitmen bakal merevitalisasi seluruh pasar tradisional di Jakarta secara bertahap.

Bahkan, PD Pasar Jaya akan membuat pasar tradisional dengan nuansa adat Betawi sebagai ciri khas kota Jakarta.

Hal itu disampaikan oleh Ditektur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan saat ditemui di kantornya di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/6/2024).

Agus mengaku, beberapa pasar tradisional bakal menjadi prioritas Perumda Pasar Jaya untuk segera direnovasi.

Beberapa di antaranya adalah Pasar Slipi, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Cipete Utara dan Fatmawati Blok A, Jakarta Selatan.

"Yang sedang kami jalankan adalah Pasar Senen Blok 6, Pasar Pramuka, Pasar Lontar dan Kebon Melati, Pasar Jatinegara," kata Agus Himawan. (m26)

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di WhatsApp.

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.

 

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved