Kabar Artis

Cindy Sebastiani Bintangi Film "Saat Menghadap Tuhan" Setelah Ikuti Casting Terbuka

Tiktoker Cindy Sebastiani mulai berakting dengan main di film "Saat Menghadap Tuhan" karya sutradara Rudi Soedjarwo.

Penulis: Arie Puji Waluyo | Editor: Sigit Nugroho
WartaKota/Arie Puji Waluyo
Tiktoker Cindy Sebastiani mulai berakting dengan main di film "Saat Menghadap Tuhan" karya sutradara Rudi Soedjarwo. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dikenal sebagai artis tiktok, Cindy Sebastiani menjajal hal baru yaitu dunia akting.

Cindy masuk ke dunia akting dengan menerima tawaran dari sutradara Rudi Soedjarwo untuk membintangi film "Saat Menghadap Tuhan".

Film bergenre drama itu akan tayang di seluruh bioskop di Tanah Air pada 5 Juni 2024.

Dalam film itu, Cindy Sebastiani berperan sebagai Maya yang merupakan adik dari Nala yang masih berusia 14 tahun.

Cindy Sebastiani membeberkan dirinya bisa turut main di film "Saat Menghadapi Tuhan".

Dia mengikuti casting terbuka yang digelar Rudi Soedjarwo untuk mencari pemain di film yang bertemakan tentang perundungan.

"Jadi aku berjuang sendiri. Aku ikut casting karena ceritanya bagus. Jadi, aku mau ikutan di project ini," kata Cindy saat berbincang di kantor redaksi Wartakotalive.com, di kawasan Palmerah, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2024).

"Setelah casting, nggak dikabarin. Tapi, mas Rudi nawarin peran Maya, adik Nala. Mas Rudi memberitahukan file casting aku kena skip," ujar Cindy.

Baca juga: Ngeri! Diduga Siswa SMK Lingga Kencana Tengah Live Tiktok Saat Kecelakaan Maut Terjadi

Meski tidak sesuai harapan karena ingin menjadi Nala, Cindy tetap menerima tawaran Rudi untuk menjadi Maya karena menyukai jalan ceritanya yang mengangkat tentang perundungan, KDRT, pelecehan seksual, dan lain-lainnya.

"Maya usianya 14 tahun. Sementara aku 10 tahun lebih tua. Bingung juga. Akhirnya aku coba dan bersyukur bisa bisa saja," jelas wanita berusia 24 tahun itu.

"Kebetulan ini film pertamaku jadi ya bersyukur lancar aja," ucap Cindy..

DIbully Keluarga Sendiri

Di sisi lain, Cindy menerangkan bahwa dirinya pernah menerima perundungan yang dilakukan oleh keluarga besarnya sendiri, sehingga jalan cerita film begitu dekat dengannya.

"Aku dulu item banget. Sementara keluarga besar saya putih-putih, karena keturunan Chinese. Akhirnya aku dibully," kata Cindy.

"Terus minta pembelaan dari orangtua, tetapi nggak dapat karena keluarga besar ku menganggap hanya bercanda," ujar Cindy.

Baca juga: Film VINA Sebelum 7 Hari Sudah Ditonton 5 Juta Orang, Lewati Film Badarawuhi di Desa Penari

"Berjalannya waktu ya akhirnya aku mulai berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan keluarga besar ku, berusaha memahami," tutur Cindy.

Cindy mengakui kalau peran Maya adalah korban dari pelecehan seksual.

Ia tidak kesulitan untuk mendalami peran itu, karena dibantu oleh Rudi.

Sebelum syuting, Cindy menjalani proses reading dan workshop bersama pemain lain. Ia berusaha mendalami peran Maya melalui berbagai cara yang dilakukan oleh sang sutradara.

"Ya untungnya lancar aja engga ada masalah," ungkapnya.

Cindy Sebastiani pun menganggap kalau film Saat Menghadap Tuhan banyak memberikan pesan moral ke masyarakat, yang bisa diambil dalam kehidupan nyata.

"Aku berharap film ini memberikan edukasi ke orang tua tentang bully. Bahwa dampak dari bully itu berpengaruh ke psikis seseorang," jelas Cindy.

Baca juga: Sedang Tren di TikTok, Urban Hiking Bisa Membantu Anda Menghilangkan Stres

Film "Saat Menghadap Tuhan" bercerita pada kisah empat remaja dengan masalahnya masing-masing, namun disatukan oleh tali kenestapaan yang sama, yakni penyesalan.

Tiap kisah dari keempat protagonis ini, mewakili satu isu yang jamak ditemui di tengah masyarakat saat ini.

Damar (Rafi Sudirman), seorang pemuda yang berangan ingin membahagiakan hidup ibunya, tumbuh dengan trauma dan kemarahan yang mengendap setelah menyaksikan ayahnya mati sia-sia di tangan seorang preman.

Terbiasa diajarkan untuk tidak mengutarakan isi hatinya, gemuruh emosi dalam dirinya bak gunung berapi aktif yang bisa meletus kapan saja.

Gito (Abielo Parengkuan), adalah sahabat Damar yang lahir dari keluarga serba berkecukupan.

Di balik hidupnya yang  tampak tak bermasalah, tidak terciptanya komunikasi yang sehat antara dirinya dan orangtuanya membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang kikuk secara sosial, dan membuatnya jadi sasaran perundungan. 

BERITA VIDEO: Inilah Momen Detik detik Evakuasi Penumpang Singapore Airlines usai Alami Turbulensi
 

Nala (Denisha Wahyuni) hidup di tengah keluarga yang gagal menjadi ruang aman dan lingkar pelindung utama bagi seorang remaja, di mana para lelaki di keluarganya tampak enteng saja menyakiti anggota perempuannya. 

Untungnya, Nala bisa menemukan ketenangannya dalam aktivitas  dalam bermusik, yang ia gunakan sebagai pelarian dari pahitnya realita. 

Sedangkan Marlo (Dede Satria), adalah sosok jagoan di sekolah, ber-ayahkan pria bertahta, dan tumbuh dengan bahasa cinta berwujud kekuasaan. 

Dibesarkan oleh ayah yang biasa membuatnya merasa kerdil, Marlo pun tumbuh menjadi remaja yang tak sungkan merundung dan membuat orang lain juga merasa kerdil dan menciptakan rantai trauma yang diteruskan antargenerasi. 

Meskipun ingin bisa menjalani kehidupan normal seorang remaja, trauma dan luka batin yang mereka alami membuat keempatnya saling terkoneksi sembari bertarung dengan perangnya sendiri-sendiri. (ARI).

Baca Wartakotalive.com berita lainnya di Google News

Ikuti saluran WartaKotaLive.Com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaYZ6CQFsn0dfcPLvk09

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved