Berita Jakarta

Duka Usaha Warung Kerek di Tepi Kali Mampang, Duitnya Terbang hingga Tidak Ada yang Bayar

Warung kerek di Tepi Kali Mampang, Jakarta Selatan, tak selamanya berjalan mulus. Ada banyak duka yang harus diderita Neneng saat menjalankan usahanya

Penulis: Nurmahadi | Editor: Junianto Hamonangan
Warta Kota/Nurmahadi
Warung Kerek yang terletak di Jalan Poncol No 49, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. 

WARTAKOTALIVE.COM, MAMPANG PRAPATAN - Bisinis rumah makan unik dan nyentrik yang bernama warung kerek di Tepi Kali Mampang, Jakarta Selatan, ternyata tak selamanya berjalan mulus.

Beberapa kendala kerap dialami pemilik warung kerek, Neneng (43) kala menjalani bisnisnya.

Sederet kerugian bahkan pernah dirasakan Neneng. Salah satunya kehilangan uang yang diberikan konsumen.

Uang tersebut, hilang lantaran terjatuh ke dalam kali, setelah diterpa angin kencang.

“Kita kan berjarak sama pembeli, ada kali empat meter mah. Makanya, pas kita narik ember yang dihubungkan ke tali, kita enggak bisa kontrol terkadang. Namanya juga angin. Tahu-tahu terbang aja tuh duit,” kata dia kepada wartakotalive.com, Selasa (23/1/2024).

Tak hanya uang yang berterbangan, kerugian lain yang kerap dialami Neneng yakni ketika ember pengangkut makanan dan uang konsumen, terjun bebas ke dalam kali.

Peristiwa itu kata dia, acap kali terjadi, sejak warung kerek dibuka, pada 2014 lalu.

“Ada juga ember berisi makanan dan uang kembalian pelanggan yang jatuh. Ruginya kan jadi berkali-kali lipat tuh. Ember hanyut, makanan hanyut, uang hanyut,” ujar wanita asli betawi itu.

Di samping itu, Neneng juga mengaku pernah mengalami kerugian, lantaran ada pelanggan yang tak bayar.

Neneng (43), pemilik warung kerek yang terletak di Jalan Poncol No 49, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Neneng (43), pemilik warung kerek yang terletak di Jalan Poncol No 49, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. (Warta Kota/Nurmahadi)

Pelanggan itu kata Neneng, pergi begitu saja, saat tengah ramai pembeli.

“Pernah ada pelanggan yang pesan, tapi dia enggak ngambil peranan dia. Dia langsung ambil punya orang lain, plus kembaliannya juga. Kita rugi banget dah waktu itu,” ujar dia seraya mengeluh.

Kendati demikian, Neneng tak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.

Dia hanya bisa bersyukur, dengan warungnya Neneng bisa menyambung hidup, sambil menyekolahkan anaknya.

"Sebenernya enggak ambil pusing sih ya, yang penting dari warung ini, saya masih bisa menyambung hidup, sambil menyekolahkan anak," ungkap dia.

Sementara itu, berdasarkan pengamatan Wartakotalive.com, tembok pembatas yang tinggi, dan aliran deras kali Mampang, tampaknya tak menghentikan ide cemerlang Neneng (43), untuk tetap mengais rezeki dari warung makan di halaman rumahnya.

Warung yang terbilang nyentrik itu, terletak di Jalan Poncol No 49, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Dengan media ember yang dikaitkan ke tali tambang, Neneng tetap bisa melakukan transaksi, tanpa harus bersusah payah menyebrangi sungai, hingga menaiki tembok.

Warung makan berkelir hijau dengan luas 4×3 meter itu, sudah berdiri sejak tahun 2014 lalu.

Baca juga: Warung Kerek di Tepi Kali Mampang, Beradaptasi dengan Segala Hambatan Sejak Tahun 2014

Tak ayal, banyak pelanggan setia yang rela menunggu di tepi sungai.

Para pelanggan yang didominasi pekerja kantoran itu, hanya perlu berteriak ketika memesan makanannya. 

"Mpok pesen ayam goreng satu porsi ya," teriak pelanggan dari tepi sungai.

"Siap neng, tunggu sebentar ya," timpal Neneng sambil menyiapkan pesanan pelanggan.

Tangan terampil Neneng, sigap menyiapkan pesanan ayam goreng pesanan pelanggan.

Tak butuh waktu lama, satu porsi ayam goreng, lengkap dengan nasi dan lalapan itu pun siap diantar ke seberang sungai.

Ayam goreng yang sudah dibungkus plastik itu lantas dimasukkan ke dalam ember biru, dan siap "dikerek".

"Sudah sampai neng, taruh uangnya di dalam ember ya," teriak Neneng.

"Oke mpok, ini uangnya pas ya, terimakasih mpok" jawab pelanggan.

Kepada wartakotalive.com, Selasa (23/1/2024), Neneng menceritakan asal muasal warung kerek itu berdiri.

Warung yang dikenal luas masyarakat dengan nama "warung kerek" itu, berdiri sejak tahun 2014 lalu.

Ia mendirikan warung itu, setelah bedeng yang biasa dijadikan tempat berjualan, diambil alih pihak hotel dan gedung perkantoran.

“Dulu saya jualan di atas. Di area perkantoran dan hotel itu. Saya jualan di dalam bedeng,” ujar dia.

Neneng mengaku, berjualan di bedeng tersebut lantaran banyak kontraktor dan pekerja bangunan yang menjadi langganannya.

Namun, saat pembangunan gedung perkantoran itu rampung, dia terpaksa pindah.

Neneng sebetulnya sempat ditawari untuk berdagang di kios kecil yang disediakan pihak gedung.

Namun, dia menolak karena biaya sewa yang cukup mahal, yakni sekitar Rp 30 juta dalam satu tahun.

Terlepas dari itu semua, kini Neneng telah sukses dalam mendirikan sebuah usaha makanan, dengan konsep yang unik.

Dalam sehari, dia mengaku bisa meraih keuntungan hingga Rp 1 sampai Rp 2 juta.

"Alhamdulillah, langganan udah banyak juga, setiap hari selalu ramai pembeli, mau hujan juga tetap ada yang beli, bela-belain pakai jas hujan," ujarnya. (m41)

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved