Survei Seiko Epson Corporation: Generasi Muda Tidak Terpengaruh dengan Perubahan Iklim
Hasil survei Seiko Epson menunjukkan 49 persen responden berusia 16 hingga 29 tahun optimis tidak terkena dampak perubahan iklim.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perubahan iklim telah menjadi salah satu isu paling mendesak dan meresahkan di seluruh dunia. Fenomena ini tidak hanya menciptakan perubahan dalam cuaca, tetapi juga memiliki dampak mendalam pada lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan manusia.
Bahkan, isu perubahan iklim dibahas oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam sebuah konferensi yang dinamai Conference of the Parties (COP) setiap tahun.
Konferensi iklim ini digelar pertama kali pada tahun 1995 untuk mengetahui perkembangan terkait perubahan iklim. Generasi yang lahir setelah tahun 1995 pun dikenal sebagai generasi COP.
Meskipun suhu global terus mengalami peningkatan yang menyebabkan bencana banjir dan kebakaran hutan yang dahsyat terjadi di beberapa wilayah pada tahun ini, namun hampir separuh dari peserta muda dalam sebuah survei global besar di 39 negara percaya bahwa mereka secara pribadi akan terhindar dari bencana iklim selama hidup mereka. percaya bahwa mereka secara pribadi akan terhindar dari bencana iklim selama hidup mereka.
Laporan tahunan ketiga Climate Reaity Barometer dari Seiko Epson Corporation memberikan wawasan mengenai pandangan dari generasi COP terhadap perubahan iklim.
Seiko Epson merupakan produsen teknologi yang dikenal dengan printer. Survei telah dilakukan Seiko Epson sejak tahun 2021 untuk memahami sikap dan harapan pelanggan di berbagai pasar global. Pelaksanaan survei ini dilakukan oleh Opinion Matters.
Dalam survei yang melibatkan lebih dari 30.000 orang tersebut menemukan bahwa hampir 49 persen responden berusia 16 hingga 29 tahun “sangat optimis” atau “agak optimis” bahwa mereka tidak akan terkena dampak dari peristiwa seperti banjir, kekeringan, atau tanah longsor, dan jumlah tersebut menurun menjadi hanya 32 persen untuk peserta berusia 55 tahun ke atas.
Kenaikan biaya merupakan kekhawatiran yang lebih besar daripada pemanasan global bagi mereka yang berusia 29 tahun ke bawah, meskipun perubahan iklim merupakan isu utama bagi mereka yang berusia 30 tahun ke atas.
Menurut Chief Exective Officer Seiko Epson, Yasunori, laporan tersebut menunjukkan bahwa banyak orang mungkin tidak sepenuhnya memahami konsekuensi dan lintasan iklim bumi berdasarkan tingkat emisi saat ini dari pembakaran bahan bakar fosil.
Selain itu, temuan hasil survei menunjukkan bahwa ’generasi COP’ tidak merasakan krisis yang sama layaknya kelompok yang lebih tua.
”Generasi muda, khususnya generasi ini hidup di bawah pemanasan global sejak lahir, sehingga mungkin tak merasa begitu terancam perubahan iklim. Keakraban yang meluas dengan perubahan iklim dan kepercayaan terhadap solusi berbasis teknologi mungkin berkontribusi pada rasa urgensi yang lebih rendah," ucap Yasunori Ogawa, dalam keterangan resmi, Sabtu (23/12/2023).
"Kesenjangan antara persepsi dan realitas atmosfer merupakan risiko dan perlu lebih banyak edukasi,” tambah Yasunori.
Lebih lanjut dikatakan, bahwa laporan tahunan Seiko Epson Corporate juga menunjukkan banyak responden yang mengaku sudah melakukan perubahan perilaku.
Mereka mengurangi konsumsi untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Hampir 38 persen di seluruh kelompok usia mengaku mengurangi perjalanan internasional untuk bekerja dan hiburan.
"Sekitar 30 persen mengaku berencana melakukan perubahan di masa yang akan datang. Sejumlah hampir 20 persen telah beralih ke kendaraan listrik, dan 51 persen berharap melakukannya di masa depan," sebutnya.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengungkapkan, konsekuensi dan lintasan iklim bumi berdasarkan tingkat emisi pembakaran bahan bakar fosil saat ini tidak sepenuhnya dipahami banyak orang.
Inflasi dan peristiwa cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir menjadi lebih buruk akibat perubahan iklim.
Tekanan pada pasokan pangan terjadi seiring percepatan pemanasan global. Laporan Bank Sentral Eropa menunjukkan kenaikan suhu bisa meningkatkan inflasi pangan tahunan.
Peningkatan inflasi tahuan tersebut berada di kisaran 0,9 persen dan 3,2 persen per tahun pada tahun 2035.
”Umat manusia telah membuka pintu gerbang menuju neraka. Perlu segera dilakukan tindakan untuk mencegah kenaikan suhu 2,8 derajat celcius yang berdampak tidak proporsional pada kelompok termiskin di dunia,” ucap Antonio Guterres.
Perubahan iklim memperburuk inflasi dan cuaca ekstrem
Perubahan iklim telah memperburuk inflasi dan peristiwa cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan suhu yang lebih panas akan berdampak pada pertanian, sehingga memberikan lebih banyak tekanan pada pasokan pangan seiring dengan percepatan pemanasan global. Kenaikan suhu dapat meningkatkan inflasi pangan tahunan antara 0,9 persen dan 3,2 persen per tahun pada tahun 2035, menurut laporan dari Bank Sentral Eropa.
Seiko Epson, produsen teknologi yang terkenal dengan printernya, telah melakukan survei setiap tahun sejak 2021 karena berupaya memahami sikap dan ekspektasi konsumen di berbagai pasar secara global. Laporan ini dilakukan oleh Opinion Matters.
Banyak responden mengatakan bahwa mereka telah melakukan perubahan perilaku dan mengurangi konsumsi untuk membantu mengatasi perubahan iklim.
Di semua kelompok usia, hampir 38 persen mengatakan bahwa mereka mengurangi perjalanan internasional untuk bekerja dan bersenang-senang, dan sekitar 30 persen mengatakan bahwa mereka berencana untuk melakukan perubahan ini di masa depan.
Hampir 20 persen melaporkan bahwa mereka telah beralih ke kendaraan listrik dan 51 persen mengatakan bahwa mereka berharap untuk melakukannya di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Laporan-tahunan-ketiga-Climate-Reality-Barometer-dari-Seiko-Epson-Corporation.jpg)