Berita Jakarta

PDIP DKI Prihatin Cinta Mega Kembali Dimajukan Caleg oleh PAN usai Dipecat Akibat Main Judi Online

Sekretaris DPD PDIP DKI Jakarta Gembong Warsono memastikan, pihaknya telah menyuguhkan 106 kader terbaik untuk ajang Pileg 2024 mendatang.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Feryanto Hadi
kompas.com
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI-P Cinta Mega (Kompas.com/Nursita Sari) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta merasa prihatin dengan sikap Partai Amanat Nasional (PAN) yang mencalonkan mantan kadernya Cinta Mega.

Padahal Cinta Mega telah dipecat dari keanggotaan PDIP karena terpergok bermain gim berkedok judi online saat rapat paripurna di DPRD DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Sekretaris DPD PDIP DKI Jakarta Gembong Warsono memastikan, pihaknya telah menyuguhkan 106 kader terbaik untuk ajang Pileg 2024 mendatang.

Mereka diharapkan mampu menjaga marwah dan kredibilitas partai, karena ketika ditugaskan dan terpilih menjadi anggota dewan, mereka harus kembali untuk melayani rakyat dan membangun kepentingan masyarakat.

Baca juga: Nama Cinta Mega Eks Kader PDIP dalam DCT PAN Masih Dalam Proses Verifikasi KPU DKI Jakarta

“Jadi kami merasa prihatin juga ketika nanti mereka bertugas sementara kita sudah sama-sama tahu (Cinta Mega dipecat karena bermain gim), itu sangat mencederai masyarakat Jakarta,” kata Gembong di DPRD DKI. Jakarta pada Senin (9/10/2023).

“Kemudian dicalonkan kembali, ya pilihlah masyarakat yang menilai itu. Kami serahkan sepenuhnya kepada masyarakat, kalau mereka (Cinta) masih layak ya monggo (silakan), kalau tidak layak ya sepenuhnya itu ada di tangan masyarakat Jakarta,” sambungnya.

Menurut dia, Cinta Mega sudah tak layak lagi menjadi kader PDIP karena ulahnya bermain gim judi online di forum resmi. Apalagi ruang rapat paripurna dianggap sakral karena melahirkan kebijakan untuk jutaan warga Jakarta.

“Kalau di PDIP sudah pasti tidak layak (Cinta Mega), kalau di PDIP loh ya. Saya nggak mau mencampuri rumah tangga orang lain, tapi kalau di PDIP pasti sudah tidak layak,” imbuhnya.

Baca juga: Ketahuan Pindah ke PAN, PDIP DKI Desak DPP Terbitkan Surat PAW Cinta Mega di DPRD

Dalam kesempatan itu, Gembong juga mengucapkan terima kasih atas perhatian dari media yang ikut mengawasi kinerja Wakil Rakyat di Parlemen Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kata dia, kasus yang dilakukan Cinta Mega merupakan pelajaran berharga dan menyadarkan anggota dewan, bahwa setiap perilaku mereka di ruang publik akan menjadi sorotan.

“Ini menyadarkan kepada kita semua, ini pembelajaran yang paling baik bagi para anggota PDIP agar bertindak dan berperilaku perlu kehati-hatian karena kita berada di ruang publik,” ucap pria yang juga menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta ini.

Gembong telah meminta kepada para koleganya di PDIP agar bersikap baik dan tidak berbuat hal tercela di ruang publik. Mereka juga harus bersikap disiplin dalam bertindak maupun berbicara, karena seluruh anggota fraksi meruakan corong PDIP di tengah masyarakat Jakarta.

“Agar kehadiran mereka mendapat simpati, agar kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat membawa citra positif kepada partai maka mereka harus menjaga disiplin tadi. Jadi kuncinya adalah disiplin,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, mantan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Cinta Mega yang dipecat karena ketahuan bermain judi online dikabarkan pindah ke Partai Amanat Nasional (PAN).

Bahkan nama Cinta sudah masuk dalam daftar calon sementara (DCS) anggota legislatif DKI Jakarta di KPU DKI Jakarta.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono membenarkan kabar tersebut. Gembong mengetahui hal tersebut dari pihak KPUD DKI Jakarta saat proses penerimaan DCS dari DPW PAN DKI Jakarta di hari terakhir penyerahan dokumen pada Selasa (3/10/2023) lalu.

“Informasi yang kami dapatkan Ibu Cinta ditetapkan oleh PAN sebagai calon legislatif, dan ini menandakan bahwa PAN hanya mengejar efek elektoral,” ujar Gembong kepada wartawan di Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta pada Senin (9/10/2023).

Menurut dia, partai bergambar matahari putih itu juga dianggap mengesampingkan dan membutakan proseso konsolidasi dan kaderisasi yang berlaku di partai politik.

Di mana, bantuan keuangan yang diterima partai politik dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) itu, 60 persen diperuntukkan untuk pembinaan agar dapat mencetak kader berkualitas sehingga ketika dicalonkan di legislatif daerah maupun nasional bisa mendapatkan hasil yang baik.

Baca juga: Korban Sebut Pengemudi Ferrari dalam Kondisi Mabuk saat Tabrak 5 Kendaraan di Bundaran Senayan 

“Harapannya kan seperti itu, tapi apa yang terjadi? Hari ini kami sama-sama saksikan bahwa efek elektoral masih menjadi faktor utama. Kalau bahasa saya, sampai-sampai membutakan proses kaderisasi,” kata anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta.

Berdasarkan informasi yang diterima, kata dia, PAN mengirimkan dokumen DCS ke KPU itu pada menit-menit terakhir.

Gembong menduga, PAN sengaja mengirim dokumen itu di menit akhir untuk mengaburkan nama Cinta di partainya.

“Kami mendapat informasi dari KPU itu pendaftarannya PAN ke KPU itu last minutes (menit terakhir), jam 12 kurang berapa menit. Ya mungkin biar nggak diintip oleh orang,” imbuhnya. (faf) 

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved