Kesehatan
Punya Karakteristik Unik, Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kesehatan Pada Anak
Dampak dari cuaca ekstrem akibat perubahan iklim mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok rentan yakni anak-anak.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perubahan iklim mengakibatkan terjadinya cuaca ekstrem yang berdampak negatif berupa kerusakan lingkungan serta mempengaruhi kesehatan manusia secara langsung, khususnya pada kelompok rentan yakni anak-anak.
Ketua Satgas Bencana IDAI Dr. Kurniawan Taufiq Khadafi, M. Biomed, SpA(K) yang juga dokter spesialis anak mengatakan, ada karakteristik unik pada anak yang menjadikan anak rentan terhadap kondisi kegawatdaruratan kesehatan akibat perubahan iklim.
“Anak itu bukan dewasa mini. Dimana proses yang ada pada anak itu sebagian besar proses tubuhnya berbeda dengan dewasa,” ujar dr. Khadafi saat media briefing IDAI dengan topik Dampak Perubahan Iklim pada Kesehatan Anak secara daring, Selasa (2/5/2023).
Dr. Khadafi kembali menjelaskan, bahwa ada sejumlah karakteristik unik pada anak yang membuat mereka merupakan kelompok rentan terhadap kondisi kegawatdaruratan akibat perubahan iklim.
1. Anak banyak menghirup udara
Menurut dr. Khadafi, anak-anak lebih banyak menghirup udara dan terlihat dari frekuensi napas anak lebih banyak dibandingkan orang dewasa.
“Dengan banyak menghirup udara, memudahkan anak menghirup bahan yang sifatnya berbahaya di udara dan ini menyebabkan akan rentan terkena penyakit,” jelasnya.
2. Aktif bermain di luar
Seperti diketahui, kebanyakan anak-anak memiliki rutinitas di luar rumah dengan bermain bersama dengan teman sebayanya.
Lalu, saat melakukan aktivitas ini mereka memegang barang-barang yang kemungkinan kotor.
Mereka juga sangat mudah untuk memasukkan sesuatu ke mulut. Alhasil, anak-anak akan sangat mudah terinfeksi penyakit.
“Pada anak yang usianya lebih besar, mereka banyak bermain di luar rumah, anak-anak eksplorasi bermain dengan bahan-bahan yang kotor dan mudah memasukkan ke dalam mulut. Ini kelihatannya simpel, tetapi kita akan melihat itu adalah salah satu sifat anak yang dampak dari perubahan iklim akan masuk dalam situasi seperti ini,” ungkap dr. Khadafi.
3. Tidak mampu mengekspresikan keluhan
Faktor lainnya yang membuat anak-anak rentan terkena penyakit adalah mereka tidak mampu mengungkapkan dan mengekspresikan keluhan.
“Ketika anak itu sudah dalam keadaan sakit kadang kala kita tahunya sudah berada dalam fase lanjut oleh karena keluhan awal tidak diungkapkan secara jelas oleh anak,” ujar dr. Khadafi.
4. Butuh perawatan khusus
Karakteristik unik lainnya yang dimiliki anak-anak adalah mereka membutuhkan vaksinasi, pemilihan dan perhitungan dosis obat, dan perlengkapan emergensi yang berbeda dengan dewasa.
5. Anatomi dan fisiologi
Jika dilihat dari segi anatomi, anak-anak, khususnya balita, memiliki proporsi kepala yang lebih besar dibandingkan tubuhnya. Selain itu, luas permukaan tubuhnya lebih luas dibandingkan dewasa.
Kemudian, jika dilihat dari fisiologi, anak-anak lebih mudah mengalami dehidrasi. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian orang tua. Apalagi, mereka mudah terpapar dengan bahan hirupan.
“Pada proses normal, anak itu lebih mudah mengalami dehidrasi dan mudah terpapar bahan hirupan,” papar dr. Khadafi.
6. Tumbuh kembang dan psikologi
Jika dilihat dari segi tumbuh kembang, pada anak-anak usia balita kemampuan untuk menghindari situasi berbahaya tidak secepat anak yang usianya lebih besar.
“Ini juga menjadi faktor resiko anak lebih mudah terpapar kegawatan,” lanjut dr. Khadafi.
Terakhir, dari aspek psikologi bahwa anak memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
“Kita sering lihat rasa keingintahuan anak itu besar, segala sesuatu yang sekiranya dibilang itu berbahaya, justru menimbulkan tanda tanya bagi anak dan sehingga kadang-kadang dicoba oleh anak. Nah itu yang menjadi karakteristik mengapa anak lebih mudah terpapar terhadap beberapa situasi kegawatan,” ungkap dr. Khadafi.
“Jadi tidak bisa disamaratakan, inilah kekhasan kenapa karakteristik anak itu berbeda,” ucap dr. Khadafi.
Beberapa poin utama dampak perubahan iklim terhadap anak-anak
Berdasakan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat beberapa poin utama dampak perubahan iklim terhadap anak-anak.
Dampak tersebut meliputi dampak langsung terhadap kesehatan, melalui perubahan ekosistem, dan perilaku manusia.
Sementara satu poin lainnya adalah dampak kesehatan pada anak akibat bencana alam terkait perubahan iklim.
Dr. Khadafi menjelaskan, dampak langsung perubahan iklim terhadap kesehatan anak terjadi karena perubahan suhu bumi yang ekstrem.
Kemudian, kejadian cuaca ekstrem yang berakibat pada kekeringan dan kebakaran hutan, banjir, ataupun proses presipitasi yang ekstrem juga dapat memengaruhi kesehatan anak-anak.
”Hasil penelitian di Kanada selama 30 tahun pengamatan sejak 1981-2010, terdapat hubungan yang kuat antara peningkatan suhu bumi yang ekstrem dengan kematian bayi mendadak. Kematian ini terjadi pada bayi berusia 3-12 bulan,” katanya.
Selain cuaca panas, suhu dingin bumi yang ekstrem juga sangat berisiko terutama pada bayi berusia 0-185 hari karena akan menyebabkan hipotermia hingga memicu kematian.
“Pada periode usia ini, bayi memang harus dijaga agar selalu dalam keadaan hangat,” papar dr. Khadafi.
Menurutnya, dalam situasi perubahan iklim seperti ini dibutuhkan bentuk upaya nyata dari semua pihak.
“Diperlukan upaya pencegahan yang nyata untuk mereduksi dampak perubahan iklim ini. Hal ini bisa dilakukan dengan menyebarkan ke banyak orang, sehingga dampak pada anak bisa diminimalisir,” ungkap Khadafi.
Sementara, Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menambahkan perubahan iklim secara global secara spesifik sudah bisa dirasakan saat ini.
Piprim khawatir, perubahan iklim dapat memicu berbagai macam dampak buruk pada anak-anak sebagai salah satu kelompok rentan, utamanya yang berusia 0-18 tahun.
Dengan demikian, ia menyarankan sebisa mungkin anak-anak dapat menghindari perubahan cuaca seperti suhu panas yang terjadi baru-baru ini, dengan lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan.
“Masalah perubahan iklim ini akan berbeda di tiap negara, yang empat musim dengan negara dua musim tentu saja berbeda. Tetapi pada prinsipnya anak adalah kelompok rentan, yang harus dilindungi, dan karakter anak adalah tumbuh juga berkembang. Perubahan iklim tidak boleh menghalangi mereka untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik,” pungkas Piprim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Karakteristik-unik-anak-yang-menyebabkan-anak-anak-rentan-terkena-penyakit.jpg)