Gatot Nurmantyo: Ada Orang Menikmati Surga Indonesia, tapi Lebih Banyak yang Nikmati Nerakanya

Menurut Gatot, orang yang menikmati kekayaan Indonesia berbanding terbalik dengan jumlah penduduk Indonesia yang masih miskin.

Tribunnews/Fersianus Waku
Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menghadiri rapat kerja nasional (Rakernas) Partai Ummat, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (15/2/2023). 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Bekas Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, Bangsa Indonesia bisa bubar, lantaran ketimpangan sosial antara yang kaya dan miskin.

Hal itu disampaikan Gatot, saat berpidato pada rapat kerja nasional (Rakernas) Partai Ummat, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (15/2/2023).

"Kalau kita berbicara kekayaan apalagi. Inilah yang membuat kita retak dan bisa bubar bangsa ini," kata Gatot.

Menurut Gatot, orang yang menikmati kekayaan Indonesia berbanding terbalik dengan jumlah penduduk Indonesia yang masih miskin.

"Karena di Indonesia ada yang menikmati surganya Indonesia, tapi lebih banyak yang menikmati nerakanya Indonesia," ujarnya.

Dia menegaskan, hal tersebut lantaran pendidikan di Indonesia kurang bermutu, sehingga masyarakat tak bisa bersaing.

Baca juga: UPDATE Covid-19 di Indonesia 14 Februari 2023: 3 Pasien Wafat, 209 Orang Sembuh, 247 Positif

Karena itu, Gatot menilai wajar banyak tenaga kerja asing (TKA) masuk ke Tanah Air.

"Mengapa demikian? Karena sebagian besar pendidikan di negeri ini kurang bermutu. Tidak bisa bersaing, maka wajar kalau TKA banyak masuk ke sini," ucapnya.

Dia menjelaskan, akibat pendidikan kurang bermutu, sebagian masyarakat akhirnya memilih berkerja pada sektor informal dengan jabatan paling rendah dan gaji kecil untuk bertahan hidup.

Baca juga: Sambangi Markas Partai NasDem, Immanuel Ebenezer Bilang Tak Bicarakan Dukungan kepada Anies

"Mereka tidak bisa bersaing dengan ekonomi modern yang menggunakan IT. Inilah terjadi dikotomi hitam dan putih," tutur Gatot.

Ia menuturkan, ada sekitar 65 juta pelaku UMKM yang tak bisa meminjam uang ke bank dengan usaha kecil-kecilan.

Akibatnya, kata dia, yang menikmati kekayaan di Indonesia hanya sebagian orang, dan tak sebanding dengan jumlah penduduk miskin.

"Itulah yang menyebabkan satu orang punya kekayaan, atau empat orang penduduk Indonesia sebanding dengan 100 juta orang Indonesia," bebernya. (Fersianus Waku)

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved