Penyakit Campak

Dinkes DKI Jakarta Akui Penyakit Campak Merajalela Akibat Imunisasi yang Rendah, ini Faktanya

Dampak pandemi virus corona ternyata penyakit campak saat ini melonjak, akibat rendahnya imunisasi.

Istimewa
Ilustrasi - Dinkes DKI Jakarta mengakui kasus penyakit campak melonjak saat ini, akibat selama pandemi virus corona sangat jarang ada imunisasi, semua terkonsentrasi pada vaksin covid-19. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jakarta membeberkan fakta-fakta penyakit campak pada 95 persen balita dan anak SD.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta, Ngabila Salama menyampaikan bahwa campak di ibu kota mencapai 253 kasus selama tahun 2022.

"Karena memang surveilans dan cakupan imunisasi campak rubela menurun selama pandemi Covid-19 sejak 2020 hingga 2022," ujar Ngabila melalui pesan singkat WhatsApp kepada Warta Kota, Rabu (25/1/2023).

Ngabila menyebutkan ternyata cakupan imunisasi campak minimal 95 persen, tidak tercapai.

Cakupan imunisasi campak hanya diterima sebesar 85 persen pada tahun 2020, lalu 91 persen di tahun 2021. Kemudian, pada tahun 2022 juga penerima vaksin hanya sebesar 91 persen.

Ngabila mengaku hal tersebut masih tergolong kecil dan jauh dari target yang diharapkan.

"Positif campak ditemukan pada daerah cakupan imunisasi rendah, wilayah padat penduduk, sanitasi dan gizi kurang," ucap Ngabila.

Hal tersebut dilihat dari banyaknya suspek yang diperiksa ke laboratorium darah campak.

Baca juga: Bebas Campak 2023, 12 Ribu Anak di Cilandak Bakal Terima Booster MR

Selain itu kata Ngabila, positif campak juga ditemukan pada wilayah yang berbatasan dengan Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Ngabila mengatakan bahwa 20 sampai 40 persen anak yang sudah imunisasi MR dua kali, masih bisa menjadi suspek campak.

Sebagai informasi, MR adalah imunisasi yang diberikan kepada anak-anak untuk mencegah penularan penyakit campak dan campak jerman atau rubela.

Baca juga: Dokter Anak Terbaik di Depok dr Farabi El Fouz Peringatkan Ancaman Wabah Baru, Beresiko Wabah Campak

"Jadi, meski sudah dua kali vaksin MR, namun cakupan rendah di wilayah tersebut dan cakupan imunisasi tidak merata, menyebabkan kenaikan kasus," kata Ngabila.

Ngabila menegaskan sebesar 50 bahkan 100 persen anak yang belum imunisasi campak lengkap tiga kali, akan rentan terkena sakit campak.

Ia pun menginformasikan imunisasi campak pada anak bisa didapatkan secara gratis untuk KTP, domisili, atau yang bersekolah di DKI Jakarta.

"Satu kali pada bayi usia sembilan bulan. Satu kali saat anak berusia 18 bulan. Dan yang terakhir, satu kali saat menginjak kelas 1 SD," jelas Ngabila.

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved