Kesehatan

Psikolog UI Sebut Main Lato-lato Bikin Emosi Positif dan Asah Keterampilan Motorik Anak

Psikolog Klinis Anak dari UI sebut bermain lato-lato dapat timbulkan emosi positif dan asah kemampuan motorik anak.

Wartakotalive.com/Yolanda Putri Dewanti
Anak-anak di Kawasan Rawalumbu Bekasi asyik bermain latto-latto. 

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Tren bermain lato-lato kian digemari banyak orang, tak terkecuali kalangan anak-anak. Walau terlihat sederhana, permainan mengayunkan dua bola kecil yang dibenturkan dan menimbulkan bunyi “tek-tek-tek”  tersebut membutuhkan keterampilan khusus.

Psikolog Klinis Anak yang juga merupakan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPsi UI), Efriyani Djuwita, S.Psi., M.Si., Psikolog., mengatakan, permainan tersebut mampu menimbulkan rasa penasaran dan memacu diri untuk menguasainya. Terlebih, jika orang-orang di sekitarnya banyak yang terampil memainkan lato-lato.

“Tren di masyarakat mengenai permainan ini, mampu menambah rasa penasaran dan ingin mencoba, sehingga pada akhirnya banyak kita jumpai anak-anak memainkan mainan ini di mana-mana,” ujar Efriyani, Sabtu (21/1/2023).

Lebih dari sekadar permainan, menurut Efriyani, permainan lato-lato ini dapat menimbulkan emosi positif bagi seseorang terlebih pada anak-anak, seperti emosi senang, karena merasa berhasil dan bangga karena mampu melakukannya.

Hal ini menjadi salah satu emosi positif yang mungkin dirasakan anak saat berhasil memainkan lato-lato.

“Karena permainan ini melibatkan keterampilan motorik dan fisik, maka anak dapat terlatih dalam aspek perkembangan tersebut,” ujarnya.

Psikolog UI, Efriyani Djuwita.
Psikolog UI, Efriyani Djuwita. (dok. Humas Universitas Indonesia)

Dalam permainan ini, lanjut Efriyani, kontrol gerakan motorik tangan juga berperan sehingga gerakan lato-latonya bisa berhasil.

“Jika dilihat lebih lanjut, dari aspek sosial, kegiatan bermain ini sedang marak dimainkan oleh semua orang, maka bisa menjadi suatu media yang dapat membantu interaksi sosial anak, seperti dengan cara bermain bersama. Selain itu, sense kompetisi juga dapat tumbuh pada anak,” kata Efriyani.

Menurutnya, meskipun lato-lato merupakan permainan sederhana, tetapi perlu diperhatikan kesesuaiannya dengan usia anak.

Untuk itu, diperlukan peran orang tua dalam mengedukasi dan mendampingi mereka saat bermain lato-lato.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah material mainan tersebut karena belum lama ini terdapat kasus anak yang harus dioperasi matanya akibat terkena pecahan lato-lato

Pertama tentunya, menyeleksi dulu apakah alat permainan ini sesuai dan cocok untuk anaknya.

Kedua, ketika orang tua sudah tahu mana permainan yang aman dan cocok untuk anaknya, orangtua bisa memberikan contoh bagaimana memainkannya terlebih dahulu jika anak memang mengalami kesulitan memainkannya.

“Di sini, orang tua bisa menjadi play leader dan kemudian secara perlahan membiarkan anak melakukan trial and error dan bermain dengan caranya. Orang tua juga bisa memberikan aturan kapan permainan ini bisa dimainkan dan dimana tempat yang aman dan cocok memainkannya,” jelas Efriyani.

Lebih lanjut Efriyani menambahkan, langkah selanjutnya yang harus dilakukan orang tua adalah orang tua bisa menjadi co-player, artinya orang tua bisa menjadi teman bermain anak.

Terakhir, orang tua juga bisa memegang peran onlooker, yakni orang tua menjadi pengamat dan siap membantu jika anak memerlukan bantuan.

“Hal ini juga berarti, jika anak sudah terampil bermain lato-lato, orang tua tetap harus mengawasi,” pungkas Efriyani.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved