Minggu, 10 Mei 2026

Pendidikan

Mengenal Metode Pembelajaran Digital dengan Blended Learning di Sekolah, Ini Perbedaannya

Berikut beberapa aspek yang membedakan antara metode pembelajaran digital dengan blended learning.

Tayang:
freepik.com
Ilustrasi anak sedang mengikuti blended learning. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pada dasarnya kita sudah sering mendengar metode pembelajaran digital dan blended learning. Namun, seringkali ditemukan kekeliruan dalam menerapkan metode ini di sekolah.

Berikut adalah beberapa aspek yang membedakan antara metode pembelajaran digital dengan blended learning, seperti dilansir dalam keterangan resmi Ruangguru, Selasa (3/1/2023).

  • Pada pembelajaran digital, teknologi hanya bersifat sebagai tambahan (suplemen) atau pelengkap (komplemen). Sementara, pada blended learning, teknologi diintegrasikan secara saksama dalam desain pembelajaran.
  • Proses pembelajaran melibatkan interaksi positif antara guru dan siswa (interaksi dua arah).
  • Harus ada pendampingan dari guru, dimana guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan arahan dan masukan.
  • Terdapat kesinambungan antara pembelajaran tradisional dan pembelajaran digital.

Metode blended learning berdampak sangat baik bagi pertumbuhan kognisi pada siswa. Tentu saja hal ini dikarenakan terlibatnya siswa secara aktif dalam mengkaji pembelajaran yang diberikan dengan juga bantuan pendampingan dari para guru.

Beberapa manfaat lain dalam penerapan metode ini adalah siswa dapat mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi, mengakomodasi siswa dengan berbagai macam gaya belajar, dan terbentuknya budaya belajar yang berkelanjutan.

Prinsip Metode Pembelajaran Blended Learning

Metode pembelajaran Blended Learning memiliki beberapa prinsip utama yang wajib dipahami oleh setiap guru ketika menerapkannya pada pembelajaran di sekolah. Adapun prinsip- prinsip utama tersebut adalah sebagai berikut:

Berpusat pada siswa (student-centered)

Blended learning mendorong siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri dan guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa, sehingga pembelajarannya tidak lagi berpusat pada guru (teacher-centered) tetapi menjadi berpusat pada siswa (student-centered).

Contoh penerapan: Guru tidak memaparkan materi secara satu arah, tetapi juga menyelenggarakan agenda diskusi dalam pembelajaran.

Berpusat pada pengetahuan/pembelajaran yang mendalam

Pembelajaran tidak lagi menyasar kepada keterampilan berpikir tingkat rendah, tetapi keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Oleh karena itu, pada sesi tatap muka, guru tidak menyampaikan materi dengan ceramah, melainkan guru memberikan aktivitas-aktivitas yang menambah pemahaman dan penerapan materi yang telah siswa pelajari menggunakan teknologi. 

Contoh penerapan: Setelah memaparkan materi, guru tidak hanya menguji pemahaman siswa melalui pertanyaan pilihan ganda tetapi juga memberikan tugas analisis studi kasus.

Berpusat pada penilaian formatif

Dengan menerapkan blended learning, guru lebih berfokus pada progress atau kemajuan siswa dibandingkan hasil akhir.

Oleh karena itu, penilaian formatif lebih cocok digunakan dibandingkan dengan sumatif.

Contoh penerapan: Seorang guru Bahasa Indonesia memberikan tugas menulis cerita pendek kepada siswa dengan tujuan mengukur tingkat pemahaman siswa dan mengevaluasi strategi pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi penulisan cerita pendek.

Terdapat keterlibatan dalam komunitas

Dalam blended learning, guru melatih siswa untuk berkontribusi terhadap masyarakat.

Contoh penerapan: Setelah pembelajaran mengenai nilai-nilai Pancasila, guru menginstruksikan siswa untuk merancang program pengabdian masyarakat untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Model Metode Pembelajaran Blended Learning

Dalam penerapannya, metode pembelajaran blended learning dibagi dalam 4 model pembelajaran. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

Rotation
Model ini adalah model pembelajaran dimana para siswa berotasi antara pos-pos berisi kegiatan pembelajaran yang berbeda, setidaknya salah satunya melibatkan kegiatan pembelajaran digital.

Guru akan bertindak sebagai fasilitator yang akan menyediakan beberapa pos-pos kegiatan pembelajaran yang akan digunakan oleh siswa. Pembagian pos ini dibagi menjadi empat, yaitu:

1. Station rotation: berpindah antar pos yang seluruh pos berada di dalam kelas.

2. Lab rotation: salah satu pos berada di lab komputer.

3. Individual rotation: siswa berpindah pos sesuai jadwal pribadi siswa.

4. Flipped classroom: siswa mempelajari materi di rumah dan melakukan aktivitas di sekolah.

Flex

Model ini merupakan model pembelajaran Rotation, dimana pembelajaran berlangsung secara fleksibel. Antara porsi dan aktivitas pembelajaran digital-tatap muka disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

A la carte

Model berikutnya merupakan model pembelajaran dimana siswa dapat mengikuti pembelajaran digital tambahan di luar ‘menu’ pembelajaran tradisional di sekolah.

Enriched Virtual

Model ini berfokus pada pembelajaran yang mayoritas dilakukan secara digital, namun siswa diwajibkan untuk mengikuti sejumlah pertemuan tatap muka untuk sekedar mendapatkan pendalaman materi atau sekedar melakukan konsultasi.

Semakin majunya dan berkembang perkembangan dunia digital yang terjadi, guru harus bisa beradaptasi dengan menggunakan model pembelajaran yang lebih relevan. Metode blended learning akan memberikan kemudahan bagi guru untuk bisa memacu kemampuan siswa dalam beradaptasi dengan kemajuan dunia digital saat ini.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved