Sebanyak 39 Petani Kopi Indonesia Menanti Hasil Penjurian Kompetisi Cup of Excellence

Kompetisi yang berjalan sejak bulan September 2022 saat ini memasuki penjurian akhir di tingkat internasional.

Editor: Ichwan Chasani
Istimewa
Sebanyak 39 petani kopi dari Indonesia menanti hasil penilaian akhir dalam kompetisi kopi specialty, Cup of Excellence(COE) Indonesia. Kompetisi yang berjalan sejak September 2022 itu saat ini memasuki penjurian akhir di tingkat internasional. 

WARTAKOTALIVE.COM — Sebanyak 39 petani kopi dari 6 provinsi di Indonesia menanti hasil penilaian akhir dari juri dalam kompetisi kopi specialty paling prestisius di dunia, Cup of Excellence(COE) Indonesia.

Kompetisi yang berjalan sejak bulan September 2022 saat ini memasuki penjurian akhir di tingkat internasional.

Para petani tersebut berasal dari Daerah Istimewa Aceh (24 petani), Jambi (5), Sumatera Selatan (1), Jawa Barat (4), Jawa Timur (1) dan Sulawesi Selatan (4).

Ketua Umum Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Daryanto Witarsa bahwa kebanyakan petani peserta COE Indonesia berasal dari Aceh karena saat pertama kali mengadakan Cup of Excellence di Indonesia, Aceh menjadi pilot project.

“Jadi di Aceh itu bisa dibilang banyak petani disana sudah terlatih. Dari tahun ke tahun mereka sudah tahu skema cara kompetisi gimana, mereka tahu benefit untuk kompetisi ini gimana,” ungkap Daryanto Witarsa, dalam pernyataan resminya, Rabu (21/12/2022).

Baca juga: Luncurkan Printer TM Series, Epson Jadi Solusi Bagi Pasar Ritel dan F&B: Simak Spesifikasinya

Baca juga: Hendak Cairkan Cek yang Dicuri, Dua Pria Ditangkap di Bank Area Kementerian Pertanian

“Jadi untuk ke depannya kami ingin replikasi, apa yang ada di aceh sekarang ke kota-kota lain, ke Jawa Barat, Papua, Flores, dan Sulawesi,” imbuhnya.

Daryanto Witarsa menambahkan, total pendaftar COE Indonesia kali ini ada 138 petani, namun setelah dikurasikan diperoleh 40 petani yang maju ke tahap nasional, kemudian di tahap internasional dipilih 22 petani, hingga dapat pemenang.

Daryanto Witarsa berharap, penyelenggaraan COE ini bisa jadi ujung tombak, yaitu kompetisi kopi tapi bukan dengan nilai dan produksi, melainkan ada semacam sustainability buyer.

Dia mencontohkan adanya pemenang tahun lalu yang dibeli oleh perusahan asal Jepang di pelelangan dengan harga sangat tinggi.

“Tapi di tahun ini mereka balik lagi datang untuk ke kebun langsung beli ke petaninya, ini secara langsung kami sudah berikan efek positif ke petani, bukan hanya sekedar kopi yang dilelang 200-300 kg, tapi ada repeat buy,” bebernya.

Baca juga: McDonald’s Indonesia Hadirkan McD Library dengan Renovasi Rumah Baca Zhaffa di Tebet

Baca juga: 16 Perusahaan Raih Kategori Sangat Terpercaya di Corporate Governance Perception Index

Empat proses
Kopi-kopi yang diproduksi para petani peserta COE Indonesia itu menggunakan empat proses, yaitu natural (15 lot), washed (9 lot), honey (8 lot), dan giling basah atau wet hulled (8 lot).

Cup of Excellence merupakan ajang kompetisi dengan penghargaan paling bergengsi yang diberikan untuk biji-biji kopi tertentu yang berasal dari sebuah negara produsen kopi.

Penghargaan itu diperoleh melalui persaingan ketat yang diaudit oleh auditor profesional, dalam pemilihan biji kopi terbaik, yang dikirim para petani yang mengikutsertakan hasil biji kopinya dalam jangka waktu panen tertentu.

Biji kopi pemenang dipilih oleh sekelompok cuppers yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri.

Halaman
123
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved