Sejarah Jakarta

Sejarah Jakarta: Filosofi dan Asal Usul Roti Buaya Dalam Pernikahan Adat Betawi

Roti buaya menjadi ciri khas dari sejarah Jakarta. Panganan roti buaya biasanya hanya dijumpai saat pernikahan adat suku Betawi.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Desy Selviany
Tribunnewswiki
Sejarah roti buaya dan filosifi dalam pernikahan adat Betawi 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Roti buaya menjadi ciri khas dari sejarah Jakarta. Panganan roti buaya biasanya hanya dijumpai saat pernikahan adat suku Betawi.

Dalam sejarah roti buaya, tidak diketahui sejak kapan warga Betawi mewajibkan calon pengantin pria membawa seserahan roti buaya untuk pengantin wanita.

Namun, konon katanya budaya memberikan roti budaya dalam pernikahan adat Betawi mulai muncul saat bangsa Eropa mulai masuk ke tanah Jakarta.

Dahulu, orang-orang Eropa memberikan bunga untuk lawan jenis sebagai tanda cinta. Tidak mau kalah, warga Betawi kemudian memberikan roti buaya sebagai simbol perasaan kepada lawan jenis.

Jadi diduga budaya pemberian roti buaya kepada pasangan Betawi sudah dimulai di masa penjajahan Belanda, tepatnya di abad ke 17 hingga 18.

Pada sejarah roti buaya, bentuk buaya dipilih sebagai tanda kesetiaan kepada pasangan. Sebab, buaya hanya kawin sekali dalam seumur hidupnya.

Selain itu, pemberian roti sebagai bentuk kemewahan sebab di kala itu hanya orang-orang Eropa di Betawi yang bisa memakan panganan roti.

Pada sejarah Jakarta, wilayah Jakarta yang dulunya masih terdapat rawa menjadi tempat favorit buaya berkembang biak.

Sejumlah faktor inilah yang diduga menjadi budaya Betawi dalam memberikan roti buaya kepada pasangan.

Dahulu, seserahan roti buaya tidak biasa dimakan lantaran tekstur roti yang keras. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, roti buaya dibuat selezat mungkin dan dimodifikasi dengan rasa yang lebih beragam.

Baca juga: Sejarah Jakarta, Asal Usul Nasi Uduk Betawi Dari Makanan Raja Hingga Jadi Makanan Orang Susah

Apabila dulu roti buaya berasa tawar dan keras, kini banyak pembuat roti buaya berinovasi menambahkan rasa cokelat dan sebagainya untuk roti buaya dalam pernikahan.

Dikutip dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id biasanya roti yang memiliki panjang sekitar 50 sentimeter ini dibawa oleh pengantin laki-laki pada acara serah-serahan.

Selain roti buaya, mempelai pengantin juga memberikan uang mahar, perhiasan, kain, baju kebaya, selop, alat kecantikan, serta beberapa peralatan rumah tangga.

Diharapkan dengan pemberian roti buaya ini, maka pasangan pengantin akan langgeng hingga akhir hayat.

Bahan membuat roti buaya ialah terigu, gula pasir, margarine, garam, ragi, susu bubuk, telur dan bahan pewarna.

Keseluruhan bahan tersebut dicampur dan diaduk hingga rata dan halus, kemudian dibentuk menyerupai buaya. Setelah bentuk kemudian dioven atau panggang hingga matang.

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved