Pendidikan

Tingkatkan Kualitas Perbukuan dengan Perjenjangan Buku untuk Pengembangan Bahan Bacaan Ramah Anak

Kemendikbudristek berupaya meningkatkan kualitas perbukuan di Indonesia dengan menyusun regulasi perjenjangan buku pengembangan bahan bacaan.

dok. Kemendikbudristek
Kepala SDN Setiling, Lombok Tengah, NTB, Maun, meyakini bahwa semua anak itu pintar. Ia mendorong pendekatan belajar berbasis kemampuan siswa melalui program Semua Anak Cerdas (SAC), yang menitikberatkan pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi. 

WARTAKOTALIVE.COM - Kepala SDN Setiling, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Maun, percaya bahwa semua anak itu pintar, serta memiliki minat dan bakatnya masing-masing.

Oleh karena itu, ia terus berupaya agar setiap anak mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya.

Hal tersebut penting karena akan menjadi dasar bagi kemampuan belajar mereka pada jenjang yang lebih tinggi.

Bekerja sama dengan Universitas Mataram (UNRAM), Maun mendorong pendekatan pembelajaran berbasis kemampuan siswa melalui program Semua Anak Cerdas (SAC), Cakap Literasi dan Numerasi Dasar.

Sebuah program yang implementasinya menitikberatkan pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi.

Kepala SDN Setiling, Lombok Tengah, NTB, Maun (1)
Kepala SDN Setiling, Lombok Tengah, NTB, Maun, meyakini bahwa semua anak itu pintar. Ia mendorong pendekatan belajar berbasis kemampuan siswa melalui program Semua Anak Cerdas (SAC), yang menitikberatkan pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi.

Dalam implementasinya, mula-mula Maun mengelompokkan para siswa ke dalam tiga klaster, yakni Kelompok Huruf, Kelompok Kata, dan Kelompok Cerita.

Kelompok Huruf diperuntukkan bagi siswa yang belum mengenal huruf, sedangkan Kelompok Kata ialah kelompok siswa yang sudah mengenal huruf, tetapi belum mampu membaca kata dengan baik.

Sementara, Kelompok Cerita adalah kelompok siswa yang sudah mampu membaca kata dan suku kata dengan baik, tetapi belum begitu lancar membaca kalimat atau cerita.

Kelompok Cerita kemudian dibagi lagi menjadi dua, yaitu Kelompok Cerita 1 dan 2. Kelompok Cerita 1 adalah kelompok bagi anak-anak yang lancar membaca kata, tetapi belum lancar membaca kalimat.

Sedangkan, Kelompok Cerita 2 ialah kelompok untuk anak-anak yang sudah lancar membaca kalimat, bahkan cerita.

Menariknya, Maun dan guru-guru di sekolahnya memiliki pendekatan unik bagi anak-anak di Kelompok Cerita agar terus mematangkan kemampuan bacanya dan makin memahami cerita.

Anak-anak didorong untuk menampilkan cerita dalam sebuah pertunjukkan. “Jadi, siswa-siswa yang masuk Kelompok Cerita 2, selain terus mematangkan kemampuan membaca kalimatnya, kita arahkan untuk bagaimana membawakan cerita tersebut menjadi sebuah pertunjukan di dalam kelas. Sebisa mungkin, cerita yang siswa baca berupa cerita-cerita populer Indonesia dan lokal daerah,” ujar Maun.

Walau menemui tantangan seperti terbatasnya sumber daya manusia, Maun dan guru-guru di sekolahnya tak lelah berjuang.

Bahkan, perjuangan tersebut telah mendapatkan apresiasi dan dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah. Maun tetap berpegang teguh pada keyakinannya bahwa tidak ada anak-anak yang bodoh.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved