Sejarah Jakarta

Sejarah Jakarta: Asal Usul Silat Betawi, Ada yang Diciptakan Pendekar Tionghoa

Silat sangat erat dengan Sejarah Jakarta. Sejarah Silat di Jakarta bahkan disebut-sebut berkaitan erat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Desy Selviany
Warta Kota/Rangga Baskoro
Sejarah Jakarta: Asal usul silat Betawi di Jakarta 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Silat sangat erat dengan Sejarah Jakarta. Sejarah Silat di Jakarta bahkan disebut-sebut berkaitan erat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ilmu bela diri Silat memang tidak hanya di Jakarta. Ilmu bela diri ini tersebar di beberapa negara Melayu dan wilayah Indonesia.

Mulai dari Sumatera Barat, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Malaysia, hingga Brunei Darussalam memiliki ciri khas masing-masing pada seni bela diri silat.

Bahkan, saking kayanya budaya Silat, seni bela diri ini memiliki puluhan hingga ratusan jenis menyesuaikan wilayah saat dikembangkan.

Pada Sejarah Silat di Jakarta, seni bela diri itu mulai populer sejak sosok Si Pitung menjadi pahlawan warga Betawi.

Sosok Si Pitung yang membela kaum lemah dan ditindas penjajah menggunakan ilmu bela diri Silat melawan penjajah.

Perjalanan Sejarah Silat yang dikutip dari dinaskebudayaan.jakarta.go.id disebutkan ada 8 jenis silat yang populer di Jakarta.

Kesepuluh jenis silat itu mulai dari Silat Beksi, Silat Cingkrik, Silat Tiga Berantai, Silat Sabeni, Silat Silo atau Silau Macan, Silat Mustika Kwitang atau Silat Kwitang, Silat Pusaka Djakarta, dan Silat Troktok.

Silat Beksi

Misalnya saja Selat Beksi konon diambil dari Bahasa Tionghoa, yaitu Bie Sie. Bie artinya pertahanan dan Sie artinya empat, maknanya pertahanan empat penjuru.

Sebagian kalangan berpendapat bahwa penemu aliran Silat Beksi itu adalah Lie Tjeng Hok (1854-1951), seorang keturunan Tionghoa dari keluarga petani.

Nenek moyangnya diperkirakan berasal dari Amoy (Xiamen), Tiongkok. Ia menggabungkan ilmu bela diri keluarganya dengan ilmu dari guru-guru Betawi, dan mengajarkannya kepada para murid Betawi pesisir dan orang Tionghoa Benteng di sekitar Kampung Dadap.

Di kemudian hari, aliran silat ini juga menyebar ke daerah Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, dan daerah Batujaya, Batuceper, Tangerang.

Selain itu, ada beberapa sumber yang memaknai Beksi merupakan akronim dari ‘Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan’. Ini sebagai seruan aplikasi perbuatan baik yang wajib dijalani setelah seseorang belajar Beksi.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved