Breaking News:

Berita Nasional

Pernyataan Tempurnya Dianggap Provokasi, Benny Rhamdani: Masak Rakyat Mayoritas Tidak Boleh Marah?

Benny Rhamdani menjadi sorotan saat dirinya meminta izin untuk turun bertempur di lapangan dengan pihak yang berseberangan politik dengan Jokowi

Editor: Feryanto Hadi
warta kota/gilbert sem sandro
Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani memberi klarifikasi soal ajakan tempur lapangan kepada pihak yang berseberangan dengan Jokowi 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani akhirnya buka suara terkait viralnya video dirinya yang sedang menyampaikan masukan kepada presiden di sela acara relawan yang digelar di Gelora Bung Karno beberapa waktu lalu.

Benny Rhamdani menjadi sorotan saat dirinya meminta izin untuk turun bertempur di lapangan dengan pihak yang berseberangan politik dengan Jokowi

Menurut Benny, narasi dalam video tersebut tidak tersampaikan secara utuh.

Benny sebagai relawan Jokowi pada Pilpres 2019 lalu ingin menyampaikan pandangan dan harapan para relawan di seluruh Indonesia.

 "Jadi itu bukan acara tertutup tapi saya yakin video itu adalah video yang tidak utuh. Kalau utuh kan seharusnya keseluruhan dong, dari mulai pertama sampai selesai kurang lebih 40 menit, harusnya dimuat secara utuh dan yang menyampaikan aspirasi, pandangan masalah, saran, usul kepada presiden kan tidak  hanya saya," kata Benny di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (28/11/2022) dikutip dari Tribunnews.com

Baca juga: Akun Benny Rhamdani Diburu usai Ingin Perang Lapangan dengan Lawan Jokowi: Silakan Tabuh Genderang

 Benny menambahkan ada ekspektasi rakyat baik yang dulunya mendukung Jokowi maupun pendukung Prabowo, terlebih ketika Prabowo dan Sandiaga bergabung ke dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf.

Namun, Benny melihat ketika rivalitas tersebut berakhir, ternyata masih ada hal-hal yang dicari oleh pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah.

Namun, dikatakan Benny, mereka tak melayangkan kritik dan pandangan mereka, tetapi lebih kepada mendelegitimasi pemerintahan

"Lihat cara-cara yang mereka lakukan selama ini upaya untuk mendelegitimasi menjatuhkan pemerintahan, selalu dengan pola yang sama: penyebaran kebencian, fitnah, adu domba antarsuku dan agama, berita-berita hoaks bahkan penghinaan dan pencemaran terhadap simbol-simbol negara, presiden, ibu negara terakhir," kata Benny.

Menurutnya, hal ini seperti ini terus berulang dan menjadi mesin yang mematikan dan terus diproduksi, yang menurutnya bersumber pada dendam politik yang diformalinkan pasca-Pilpres 2019.

"Jadi istilah formalin itu ya karena diformalin jadi awet padahal ekspektasi publik rakyat termasuk kami, dengan bergabungnya Prabowo dan Sandi udah selesai tentang rivalitas, kontestasi demokrasi pilpres, bangun bangsa ini bersama-sama baik pendukung jokowi maupun bukan," kata dia.

Baca juga: Kabareskrim Bantah Pernah Diperiksa Propam terkait Tambang Ilegal, Tantang Ferdy Sambo Keluarkan LHP

Karena dasar itulah, dirinya menilai perlu disampaikan kepada Presiden Jokowi bagaimana pandangan para relawan.

"Masa rakyat Indonesia mayoritas tidak boleh marah? Pasti marahlah. Mereka akan lebih berpikir tentang eksistensi dan keutuhan bangsa mereka dan kami pasti berpikir tentang perjalanan bangsa," kata dia

"Pak Jokowi bisa berakhir 2024, tapi bangsa ini harus terus berjalan siapapun pemimpinnya nanti. Cara pandang kami kan masa depan, visioner," tandasnya

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved