Berita nasional

Utang Pemerintahan Jokowi Terus Merangkak Naik, Kini Tembus Rp7.496 Triliun

Utang pemerintah Indonesia hingga Oktober 2022 sebesar 7.496,70 triliun atau naik Rp 76,23 triliun dari September 2022.

Editor: Feryanto Hadi
Tribunnews.com/Herudin
Ilustrasi uang. Nilai utang pemerintah Indonesia mengalami kenaikan pada Oktober 2022 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Utang pemerintah Indonesia terus merangkak naik.

Tercatat, hingga Oktober 2022, jumlah utang sebesar 7.496,70 triliun.

Angka itu naik Rp 76,23 triliun dari September 2022.

Meski demikian, Kementerian Keuangan menyatakan posisi utang pemerintah masih dalam rasio yang aman terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Yakni sebesar 38,36 persen di Oktober 2022, turun dari Oktober 2021 yang sebesar 39,96 persen.

Baca juga: Nyonya AHY Bandingkan Keberhasilan Era SBY Jauh di Atas Jokowi, Singgung Utang dan Lapangan Kerja

Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, batas aman rasio utang pemerintah yakni 60 persen terhadap PDB.

"Terdapat peningkatan dalam jumlah nominal dan rasio utang pada akhir Oktober 2022 jika dibandingkan dengan  bulan lalu. Meskipun demikian peningkatan tersebut masih dalam batas aman, wajar, serta terkendali diiringi dengan diversifikasi portofolio yang optimal," tulis Kemenkeu dalam buku APBN Kita, seperti diberitakan Kompas.tv, Senin (28/11/2022). 

Utang pemerintah terdiri dari dua jenis, yaitu surat berharga negara (SBN) dan pinjaman.

Kemenkeu mencatat SBN mencakup 88,97 persen utang pemerintah, sedangkan pinjaman sebesar 11,03 persen.

Rinciannya, utang pemerintah dalam SBN sebesar Rp 6.670,15 triliun.

Jumlah itu mencakup SBN domestik atau sebesar Rp 5.271,95 triliun, yang terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 4.278,26 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp 993,69 triliun.

Baca juga: Hasto Meradang Relawan Bikin Agenda di GBK, Banyak Manipulasi, Citra Jokowi jadi Turun Kelas

Lalu untuk SBN valuta asing (valas) atau berdenominasi dollar AS, nilainya mencapai Rp 1.398,18 triliun, yang terdiri dari SUN sebesar Rp 1.052,34 triliun dan SBSN Rp 345,84 triliun.

"Langkah ini menjadi salah satu tameng pemerintah dalam menghadapi volatilitas yang tinggi pada mata uang asing dan dampaknya terhadap pembayaran kewajiban utang luar negeri."

"Dengan strategi utang yang memprioritaskan penerbitan dalam mata uang rupiah, porsi utang dengan mata uang asing ke depan diperkirakan akan terus menurun dan risiko nilai tukar dapat makin terjaga,"  kata Kemenkeu. 

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved