Rusuh Arema Persebaya

Kesedihan Ayah Korban Tragedi Kanjuruhan Tidak Terbendung saat Datangi Mabes Polri

Kesedihan masih dirasakan para penyintas hingga keluarga korban Tragedi Kanjuruhan saat mendatangi Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penulis: Ramadhan L Q | Editor: Junianto Hamonangan
Warta Kota/Ramadhan L Q
Wiyono (52), sang ayah yang kehilangan putrinya bernama Vera Puspita Ayu (22) dalam Tragedi Kanjuruhan, berorasi di depan Mabes Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (19/11/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, KEBAYORAN BARU - Kesedihan masih dirasakan penyintas hingga keluarga korban Tragedi Kanjuruhan saat mendatangi Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (19/11/2022) siang.

Satu di antaranya adalah Wiyono (52), sang ayah yang kehilangan putrinya bernama Vera Puspita Ayu (22) untuk selama-lamanya dalam tragedi pada 1 Oktober 2022 lalu.

Nyawa ratusan orang, termasuk Vera, melayang karena tragedi tersebut dipicu gas air mata yang ditembakkan polisi usai laga antara Arema FC menjamu Persebaya Surabaya.

Penonton yang panik pun berdesakan sehingga menewaskan 136 orang. Tak hanya itu, ratusan korban mengalami luka ringan sampai berat.

Satu bulan lebih Tragedi Kanjuruhan berlalu, penyintas, suporter Aremania, hingga keluarga korban mendatangi Mabes Polri.

Baca juga: Pupuk Kian Langka dan Mahal, Petani Minta Ketua KPK Turun Tangan Berantas Mafia Pupuk

Mereka yang datang bersama-sama dari Malang menggunakan bus meminta keadilan atas tragedi sepak bola berdarah itu.

Dengan mata berkaca-kaca, Wiyono masih merasakan duka mendalam karena kehilangan anak sulungnya.

"Saya ayah korban dari Vera Puspita Ayu, saya berterimakasih kepada sedulur-dulur semua pada hari ini telah menguatkan saya datang ke Bareskrim Polri. Saya minta keadilan, kalau bukan saudara-saudara kita semua, mungkin kita juga drop," kata dia, di depan Mabes Polri.

"Saya tidak kuat menahan, saya kehilangan anak yang nomor satu, maka dari itu saya berterimakasih kepada Aremania, saya sebagai orangtua tidak membenci Arema. Yang saya benci adalah aparat, gas air mata. Salam satu jiwa," sambungnya.

Wiyono berharap, Tragedi Kanjuruhan dapat diusut tuntas, sama seperti kasus-kasus lainnya.

Baca juga: Bareskrim Polri Disebut Berjanji akan Terbitkan LP Tragedi Kanjuruhan pada Senin Lusa

Diberitakan sebelumnya, rombongan penyintas dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan kembali mendatangi Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (19/11/2022) siang.

Pantauan Wartakotalive.com di lokasi, mereka yang mayoritas mengenakan atribut hitam-hitam tiba di depan Mabes Polri sekira pukul 13.40 WIB.

Tak hanya penyintas dan keluarga korban, suporter Aremania turut berada di dalam rombongan tersebut. Ada pula pendamping hukum Tim Gabungan Aremania (TGA), Anjar Nawan Yusky serta Andy Irfan selaku Sekretaris Jenderal KontraS.

Mereka membawa kertas putih bertuliskan "Hentikan Brutalisme Aparat", "Revolusi PSSI", hingga "Gila Jabatan Buta Tragedi Kemanusiaan".

Lalu, ada juga yang membawa bendera putih bertuliskan "Semua Karena Gas Air Mata #UsutTuntas". Papan nisan putih bertuliskan "RIP Malang 01 10 2022" turut dibawa oleh salah seorang dari mereka dalam aksi kali ini.

Tangisan air mata pun terdengar saat melakukan aksi di depan Mabes Polri. Terdengar pula dari pengeras suara agar kasus Tragedi Kanjuruhan ini dapat dituntaskan.

Setelah itu, sekira 20 orang dari rombongan diperkenankan untuk masuk ke dalam gedung Bareskrim Polri. Mereka hendak menanyakan kejelasan laporan polisi (LP) yang dibuat pada Jumat (18/11/2022) kemarin.

Pasalnya, belum ada informasi yang jelas terkait laporan itu dari pihak Bareskrim Polri. Selanjutnya, mereka akan membuat laporan di Divpropam Polri berkaitan dugaan pelanggaran disiplin dan kode etik pada pengamanan laga di Stadion Kanjuruhan, 1 Oktober 2022 lalu. (m31)

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved