Gangguan Ginjal Akut

Larangan Minum Obat Sirup Bikin Bingung, Dinkes DKI Jakarta Ungkap Alasannya

Kebijakan pemerintah soal obat sirup membingungkan masyarakat, yang tadinya ada sekitar 156 yang diperbolehkan kini dilarang semua.

tribunnews.com
Ilustrasi - Kebijakan pemrntah yang tadinya memperbolehkan masyarakat minum obat sirup, lalu berubah dengan melarangnya, tentu bikin bingung. Masyarakat menilai pemerintah tak konsisten. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ngabila Salama, menjelaskan alasan pihaknya kembali melarang masyarakat untuk menggunakan obat sirup.

Larangan tersebut bertujuan untuk mencegah kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal.

Diketahui sebelumnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah merilis 156 jenis obat sirup yang aman digunakan masyarakat.

Larangan dikeluarkan berdasarkan arahan terbaru Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin pada dua hari lalu. 

Hal itu mengacu pada kasus gangguan ginjal akut misterius yang masih ditemukan.

"Arahan terakhir Menkes, (obat sirup) disetop semuanya. Jadi, Menkes dua hari lalu mengeluarkan arahan secara WhatsApp, tidak boleh (menggunakan obat) sirup, kecuali sirup kering yang dilarutkan dengan air putih," ujar Ngabila melalui pesan singkat di WhatsApp, Selasa (8/11/2022).

Baca juga: Polisi Periksa Tiga Suplier Bahan Baku yang Digunakan PT UPI Terkait Kasus Gangguan Ginjal Akut

Ngabila mengimbau kepada orangtua apabila anak sakit, penanganan awal yang bisa dilakukan adalah dengan mencukupi kebutuhan cairan, kompres air hangat, dan mengenakan pakaian tipis kepada anak.

Kemudian, apabila ingin memberikan obat, dapat menggunakan bentuk sediaan obat lain, namun dengan konsultasi dokter, seperti tablet, kapsul, atau puyer; suppositoria (anal); injeksi (suntik); dan infus.

Sementara itu, Juru Bicara Kemenkes RI, Mohammad Syahril menginformasikan bahwa saat ini telah ada 156 jenis obat sirop yang aman digunakan. 

Hal tersebut dikarenakan obat-obat itu telah melewati kajian yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baca juga: Pasien Meninggal Akibat Gangguan Ginjal Akut di Indonesia Didominasi Anak Usia 1-5 Tahun

"Sudah dilakukan penelitian dengan cepat oleh BPOM terhadap 156 obat ini. Nah, dianggap 156 (obat) ini adalah yang aman dipakai kembali, yang sesuai dengan edaran dari Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes. Jadi, silakan dipakai," kata Syahril dalam konferensi pers virtual, pada Senin (7/11/2022).

Lalu, Kemenkes RI menginstruksikan seluruh jajaran Dinkes di tingkat provinsi hingga kabupaten atau kota untuk mengawasi peredaran, peresepan, sampai dengan penggunaan obat sirop di luar 156 daftar obat yang dibolehkan tersebut.

"Di luar itu, maka semua Dinkes (diinstruksikan) untuk mengawasi agar tidak ada tenaga kesehatan, apotek, toko obat yang menggunakan di luar 156 obat itu, sampai nanti ada pengumuman lebih lanjut mana-mana obat cair yang dianggap aman," tandas Syahril.

Konfrensi pers penggerebekan BPOM terhadap PT Yarindo, pabrik obat sirup yang cemaran Etilon Glikolnya mencapai 100 kali lipat di Serang.
Konfrensi pers penggerebekan BPOM terhadap PT Yarindo, pabrik obat sirup yang cemaran Etilon Glikolnya mencapai 100 kali lipat di Serang. (Warta Kota/Gilbert Sem Sandro)

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI meralat daftar obat sirup yang sempat dinyatakan aman.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved