Minta Publik Tak Perlu Cemaskan Ancaman Resesi 2023, Moeldoko: Yang Banyak Uang Silakan Dibelanjakan

Dia mengatakan, secara makro, pemerintah dan otoritas moneter telah melakukan antisipasi melalui kebijakan, baik fiskal maupun moneter.

Editor: Yaspen Martinus
instagram @dr_moeldoko
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko meminta publik tidak perlu khawatir soal resesi pada 2023, yang disebut bakal menerpa sejumlah negara, termasuk Indonesia. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko meminta publik tidak perlu khawatir soal resesi pada 2023, yang disebut bakal menerpa sejumlah negara, termasuk Indonesia.

"Ekonomi tetap tumbuh meski trennya slow down."

"Jadi yang punya banyak uang silakan belanjakan uangnya, karena itu akan menjaga perekonomian kita terus bergerak,” kata Moeldoko lewat siaran pers, Sabtu (5/11/2022).

Mantan Panglima TNI itu menambahkan, peringatan Presiden Joko Widodo tentang ancaman resesi global bukan untuk menakut-nakuti, tetapi lebih kepada seruan agar Indonesia waspada terhadap kondisi pasar global.

"Saat ini telah terjadi perlambatan ekonomi di negara maju, ancaman krisis energi, pangan, dan krisis keuangan global akibat naiknya tensi geopolitik," tuturnya.

Kondisi tersebut, kata Moeldoko, sudah berdampak ke Indonesia, salah satunya permintaan terhadap barang ekspor yang berkurang.

Baca juga: Bareskrim Bakal Usut Dugaan BPOM Lalai Awasi Obat Sirop Penyebab Gangguan Ginjal Akut

Akibatnya, nilai ekspor dan impor Indonesia turun dan dapat berujung pada menurunnya surplus perdagangan.

“Dampaknya terhadap perekonomian kita tentu saja ada, tapi tidak terlalu besar, karena sejauh ini komponen utama PDB kita adalah konsumsi rumah tangga (dalam negeri)."

"Kita harus tetap optimistis dan terus waspada,” papar Moeldoko.

Baca juga: Omicron XBB Lebih Cepat Menular Ketimbang Varian Sebelumnya dan Pandai Kelabui Antibodi

Dia mengatakan, secara makro, pemerintah dan otoritas moneter telah melakukan antisipasi melalui kebijakan, baik fiskal maupun moneter.

"Pemerintah pusat dan daerah bekerja keras mengendalikan harga-harga dengan memperkuat skema bantuan sosial, agar dapat menjadi bantalan bagi masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah," bebernya.

Lebih lanjut, Moeldoko mengatakan, pada 2023, APBN akan berperan sebagai peredam kejut (shock absorber), dan digunakan seefektif mungkin untuk pengendalian inflasi, menjaga daya beli, dan menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia.

“Mulai 2023 kita akan kembali ke defisit anggaran maksimal tiga persen terhadap PDB, seperti sebelum pandemi Covid-19,” tutur Moeldoko. (Reza Deni)

Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved