Breaking News:

Secercah Harapan Orangtua Aira Bocah 8 Tahun Terkait Biaya Pengobatan Thalasemia dengan Program JKN

Nur Lutpi Andriani sangat terbantu dengan Program JKN karena dirinya tidak perlu mengeluarkan biaya pengobatan anaknya yang menderita thalasemia.

dok. BPJS Kesehatan Cabang Tigaraksa
Aira Putri Nadira, bocah 8 tahun yang menderita Thalasemia sedang menjalani pengobatan Thalasemia di rumah sakit. Orangtua Aira, Nur Lutpi Andriani (28) mengaku sangat bersyukur menjadi peserta program JKN karena biaya pengobatan anaknya ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan. 

WARTAKOTALIVE.COM, TIGARAKSA – Momen haru tergambar ketika melihat seorang gadis kecil terbaring di atas ranjang rumah sakit tengah menjalani transfusi darah.

Nur Lutpi Andriani (28) dihadapkan pada kondisi sang anak, Aira Putri Nadira (8), yang terdiagnosa mengidap penyakit thalasemia sejak berusia satu tahun.

Beruntung, pengobatan bagi penderita thalasemia telah dijamin melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Gejala awal itu saat Aira berusia delapan bulan sering sekali sakit, seperti demam, batuk, pilek dan wajahnya pucat. Saat itu, langsung di rawat di rumah sakit, ternyata dari hasil pemeriksaan darah diketahuinya kadar hemoglobin (HB) rendah diangka 3,4,” ungkap Lutpi beberapa waktu lalu.

Lutpi lanjut bercerita, bahwa anaknya membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan dipantau oleh dokter hingga akhirnya anaknya dinyatakan ada kelainan darah atau yang disebut penyakit thalassemia.

Thalasemia merupakan penyakit kelainan genetik yang memengaruhi produksi sel darah merah.

Umumnya, gejala awal yang akan muncul adalah gejala anemia yang menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk hingga sesak napas.

Penyebab thalasemia pada anak biasanya terjadi akibat kelainan genetik. Setelah mengetahui sang anak mengidap thalasemia, hati Lutpi sangat hancur namun dirinya berusaha tetap tabah dan mengupayakan pengobatan yang terbaik bagi sang anak. 

“Saya langsung mencari tahu informasi terkait penyakit thalasemia. Diberikan penjelasan juga oleh dokter yang menangani anak saya,” ungkap Lutpi.

Sebelum menjadi peserta JKN, Lutpi mengeluarkan biaya pribadi untuk pengobatan anaknya.

“Saat pertama kali transfusi darah, saya mengeluarkan biaya sekitar Rp 5 juta untuk menebus tiga kantong darah. Biayanya sangat mahal sekali bagi saya yang hanya berprofesi sebagai pedagang,” ujarnya.

Lutpi sangat bersyukur keluarganya bisa menjadi peserta JKN dan penderita thalasemia dapat dijamin pelayanan kesehatannya oleh Program JKN secara penuh.

Ia menyatakan, dirinya sangat bergantung kepada Program JKN mengingat penderita thalasemia wajib menjalani terapi transfusi darah secara rutin dan berbiaya tinggi.

Ia turut memberikan apresiasi terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) yang telah menyediakan kemudahan akses pelayanan kesehatan bagi penderita thalasemia melalui Program JKN.

“Aira rutin menjalani transfusi darah dua kali dalam sebulan, Alhamdulillah kondisinya baik dan masih bisa melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya,” ujar Lutpi.

Meskipun, pasti ada momen kondisinya menurun. Lutpi mengucapkan terima kasih bagi setiap pendonor darah karena setiap tetes darah mereka sangat bermakna untuk kehidupan anaknya.

“Saya juga berharap dengan adanya Program JKN ini dapat membantu lebih banyak orang, khususnya bagi penderita penyakit langka seperti anak saya,” pungkas Lutpi.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved