Sejarah Jakarta

Sejarah Jakarta: Makna Bundaran HI yang Berada di Jantung Ibu Kota Jakarta

Bundaran HI lekat dengan sejarah Jakarta. Pada sejarah Bundaran HI nama tersebut diambil lantaran bentuknya yang memang berupa jalan melingkar

Penulis: Desy Selviany | Editor: Desy Selviany
Wartakotalive/Angga Bhagya Nugraha
Sejarah Bundaran HI yang digagas Soekarno pada sejarah Jakarta 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Bundaran HI lekat dengan sejarah Jakarta. Letaknya persis di jantung Ibu Kota negara yakni di persimpangan Jalan M.H Thamrin, dengan Jalan Imam Bonjol, Jalan Sutan Syahrir, dan Jalan Kebon Kacang di Jakarta Pusat. 

Pada sejarah Bundaran HI nama tersebut diambil lantaran bentuknya yang memang berupa jalan melingkar dan dekat dengan Hotel Indonesia

Pada sejarahnya, Bundaran HI terkait erat dengan riwayat sejarah Monumen Selamat Datang yang ditempatkan di tengah kolam bundar tersebut. 

Dulunya lokasi bundaran ini merupakan wilayah perkebunan sayur yang ditanami oleh petani Bogor. Dan saat ada hasilnya, mereka akan menggunakan sistem bagi hasil.

Dilansir Encyclopedia Jakarta Tourism, daerah ini juga dulunya disebut sebagai Kebon Sayur, karena di sana dulunya tempat memproduksi banyak sayur mayur.

Namun, saat Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962, dimulailah pembangunan Hotel Indonesia dan peresmian Bundaran HI.

Zaenuddin HM dalam buku 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe (2012) menuliskan, gagasan pembangunan Patung Selamat Datang dicetuskan oleh Presiden RI pertama, Ir. Sukarno. 

Ide ini bermula dari obrolan santai antara Bung Karno dengan para seniman di teras belakang Istana Negara, Jakarta, pada 1959. 

Salah satu yang hadir adalah Edhi Sunarso, pematung kebanggaan Indonesia yang pernah memenangkan dua sayembara patung internasional di Inggris. 

Presiden Sukarno mengungkapkan bahwa ia ingin ada sebuah monumen yang bisa mewakili karakter bangsa Indonesia untuk menyambut para tamu yang akan hadir di Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 1962. 

Bung Karno menghendaki Edhie membuat patung setinggi 9 meter dengan bahan perunggu. 

“Tunjukkan bahwa bangsa Indonesia bangsa yang besar, bangsa yang ramah. Aku beri tugas kau buat patung itu,” titah sang presiden. 

Edhie sempat ragu lantaran ia belum pernah membuat patung dari perunggu, apalagi dengan ukuran yang diminta Bung Karno. 

Baca juga: Anies Baswedan Sebut Warga DKI Jakarta Bisa Nikmati Pemandangan dari Halte Transjakarta Bundaran HI

Namun, presiden meyakinkan bahwa Edhie pasti bisa. Sebagai perancangnya, ditunjuk Henk Ngantung, seniman yang saat itu juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Jakarta

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved