Gangguan Ginjal

Sempat Dikira Gara-gara Virus, Menkes Ungkap Kronologi Gagal Ginjal Akut Anak

Kementerian Kesehatan menjelaskan kronologi ditemukanya kasus gagal ginjal akut pada anak.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Desy Selviany
Sekretariat negara
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ingatkan soal ancaman varian baru Covid-19 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kementerian Kesehatan menjelaskan kronologi ditemukanya kasus gagal ginjal akut pada anak. Awalnya, dikira gagal ginjal merupakan infeksi dari bakteri atau virus. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa sejak bulan Agustus 2022, Kementerian Kesehatan mendapatkan laporan data kenaikan kasus gagal ginjal pada anak

Kemudian, pihak Kementerian Kesehatan melakukan review patologi. Sebab awalnya, Kemenkes curiga penyebab gagal ginjal disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. 

Kata Budi Gunadi Sadikin, saat itu dugaan terkuat ialah diakibatkan bakteri leptospirosis. Bakteri leptospirosis juga diketahui bisa mengakibatkan gagal ginjal pada penderitanya.

Pada bulan September, Kemenkes mengumpulkan hasil patologi dari anak-anak yang terkena gagal ginjal akut. 

Hasil patologi diketahui nol kasus bakteri leptospirosis yang diambil dari sampel anak-anak dengan gagal ginjal akut. 

Kemudian, Kemenkes sempat menduga karena infeksi virus Covid-19. Namun, saan dicek, kurang dari 1 persen anak-anak tersebut yang terkena Covid-19. 

Baca juga: Terus Bertambah, Kasus Gagal Ginjal Anak Kini Capai 245 Orang, DKI Jakarta Tertinggi

Di akhir September 2022, terus terjadi kenaikan kasus gagal ginjal akut pada anak. Akhirnya Kemenkes mengeluarkan surat edaran terkait tata laksana standar baru pelayanan kepada seluruh rumah sakit dan kepala dinas. 

Lalu pada 5 Oktober, WHO mengeluarkan peringatan terkait dengan cemaran zat kimia pada pelarut di obat-obatan. Kasus yang sama persis di Indonesia juga ternyata terjadi di Gambia. 

Dari hal tersebut, Kemenkes lakukan analisa toxicology kepada anak-anak yang terkena gagal ginjal akut. Kemenkes juga melakukan komunikasi dan koordinasi dengan WHO terkait dengan kasus yang serupa di Gambia. 

Hasil dari analisa toxicology, ternyata 7 dari 10 anak yang menderita gagal ginjal akut terpapar dengan cemaran zat kimia yang berbahaya. 

Sehingga dipastikan 70 persen anak-anak yang menderita gagal ginjal akut lantaran karena tubuhnya terpapar cemaran zat kimia berbahaya. 

“Tes 10 anak, 7 darahnya atau urinnya mengandng zat kimia, ini jadi positif 70 persen orang yang kena karena zat kimia ini di tubuhnya,” bebernya. 

Kemudian Kemenkes langsung mendata obat-obatan yang dikonsumsi oleh anak-anak tersebut. Kemenkes membawa obat-obatan tersebut untuk diperiksa di Puslabfor Polri. 

Hasilnya benar saja, ada obat-obatan yang dikonsumsi anak-anak tersebut sudah tercemar zat kimia berbahaya. 

Kemenkes juga melakukan biopsi pada anak-anak yang meninggal dunia karena gagal ginjal akut. 

Hasilnya ditemukan kemiripan kerusakan ginjal pada anak-anak tersebut dengan kerusakan ginjal akibat cemaran zat kimia tersebut. 

Sampai saat ini dilaporkan sudah 245 anak di Indonesia yang terkena gagal ginjal akut yang diduga dari cemaran zat kimia berbahaya ada obat sirup yang dikonsumsi. 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved