Jaksa Agung Ingatkan Mahasiswa STIH Adhyaksa Miliki Sandaran Hati Nurani saat Bekerja

Jaksa Agung Burhanuddin mengingatkan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Adhyaksa agar selalu memiliki hati nurani saat bekerja menjadi jaksa.

Istimewa
Jaksa Agung Burhanuddin mengingatkan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Adhyaksa agar selalu memiliki hati nurani saat bekerja menjadi jaksa. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Jaksa Agung Republik Indonesia Burhanuddin mengingatkan kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Adhyaksa agar selalu memiliki hati nurani saat bekerja sebagai penegak hukum.

STIH Adhyaksa didirikan sebagai bentuk dedikasi keluarga besar Yayasan Adhyaksa yang ingin ikut meningkatkan mutu pendidikan dan membangun perabadan di Indonesia melalui ilmu hukum.

“Saya memandang hati nurani sebagai suatu badan keadilan yang keputusannya tidak dapat dibanding. Hati nurani adalah suara abadi kebenaran dan keadilan, yang tidak dapat dibungkam apa pun,” ucapnya, Jumat (7/10/2022).

Dia mengatakan bahwa para mahasiswa STIH Adhyaksa akan selalu dibekali dan ditanamkan tentang pentingnya menggunakan hati nurani dalam penegakan hukum.

Ketika tujuan hukum berupa kemanfaatan, dan kepastian hukum saling menegaskan, hati nurani yang akan menjadi jembatan untuk mencapai titik bandul keseimbangan di antara ketiganya.

"Kunci bagaimana agar kita bisa berhukum secara adil dengan sandaran hati nurani, yaitu dengan mulai mempelajari hukum dengan tidak hanya akal pikiran tapi juga harus mampu menggunakan pendekatan perasaan batin,” paparnya.

Baca juga: Kenangan Sang Paman Terhadap Dicka Safa Gibari, Rajin Salat dan Khatam Hafalan Alquran

Dengan demikian, mahasiswa bisa mempelajari teori dan praktik secara mendalam, baik itu ilmu hukum maupun bidang praktisi hukum serta dapat berpraktik secara langsung dalam penegakkan hukum di kejaksaan.

Pada kesempatan tersebut juga turut dihadiri Maya Miranda Ambarsari, sebagai salah satu pendiri dan dosen kehormatan dari kalangan kejaksaan yang juga praktisi di bidang hukum.

“Para pengajar di sini 50 persen di antaranya merupakan praktisi dan 50 persen akademisi. Artinya ini sesuai yang disampaikan Pak Nadiem Makariem (Mendikbudristek) yang menginginkan adanya kampus merdeka,” tuturnya.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved