Rusuh Arema Persebaya

Kompolnas: Meski Dibawa, Gas Air Mata tak Boleh Digunakan Polisi saat Rusuh Arema Persebaya!

Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto menyesali sikap anggota Polri yang tak patuh aturan saat mengamankan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya.

Editor: Valentino Verry
kompas.com
Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto menyatakan polisi telah melakukan pelanggaran SOP saat mengamankan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, 1 Oktober 2022. Penggunaan gas air mata menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa dalam jumlah banyak. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Penyebab banyaknya jumlah korban jiwa saat rusuh Arema Persebaya mulai terkuak.

Ternyata, dalam laga derbi Jawa Timur itu telah terjadi pelanggaran SOP dalam pengamanan.

Yakni dilarangnya penggunan gas air mata saat laga sepak bola, apa pun keadaannya.

Demikian diungkapkan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Albertus Wahyurudhanto, Rabu (5/10/2022).

Menurut Albertus, penggunaan gas air mata dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tidak sesuai dengan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 2 Tahun 2019 tentang Penindakan Huru-Hara.

"Enggak (sesuai)," ujarnya singkat.

Menurut Albertus, meski polisi membawa gas air mata, ternyata senjata itu tidak boleh digunakan di dalam stadion pertandingan.

Oleh sebab itu, Kompolnas masih meneliti celah kesalahan dalam peristiwa tersebut.

Baca juga: Tegas, Polri Klaim Tak Ada Penangkapan Suporter Arema Terkait Tragedi Kanjuruhan

"Arahan-arahan sudah ada sehingga harusnya kalaupun dibawa pun tidak dipergunakan," ujarnya.

Lain halnya di luar stadion. Jika terjadi kerusuhan di sana, maka aparat diperkenankan untuk menembakkan gas air mata.

Kini, Kompolnas sedang mencari sosok yang memberi perintah untuk menembakkan gas air mata di dalam stadion.

"Sampai sekarang kita belum ada yang berani membuat kesimpulan itu," katanya.

Sebagai informasi, di dalam Perkap Nomor 2 Tahun 2019 tercantum bahwa penembakan gas air mata diperbolehkan saat peserta aksi huru-hara tidak menghiraukan imbauan polisi.

Baca juga: Lima Prajurit TNI Diperiksa Soal Kekerasan Terhadap Suporter Arema FC, Empat Orang Sudah Mengaku

Penembakan tersebut diawali oleh perintah Komandan Satuan Penindakan Huru-Hara kepada pasukannya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved