Berita Video

VIDEO : Pemkab Bogor Pasang Sensor Pergerakan Tanah di Bojongkoneng

Berdasarkan hasil kajian PVMBG, lanjut dia, pergerakan tanah di Bonong Koneng bersifat rayapan atau terjadi perlahan-lahan

Penulis: Hironimus Rama | Editor: Alex Suban

WARTAKOTALIVE.COM, CIBINONG - Pemerintah Kabupaten Bogor memasang alat sensor untuk melacak pergerakan tanah di Desa Bojong Koneng, Kecamatan BabakanMadang, Kabupaten Bogor.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Yani Hassan, Minggu (2/10/2022).

"Kita telah memasang alat sensor untuk melacak pergerakan tanah di beberapa lokasi di Kabupaten Bohor, termasuk di Bojong Koneng," kata Yani.

Simak Video Berikut :

Menurut dia, alat sensor pergerakan tanah itu jangan dibayangkan terlalu rumit dengan memasang kamera yang terhubung ke komputer.

Sebaliknya, sensor yang dipasang sangat sederhana berupa beberapa kayu yang dihubungkan dengan benang atau kawat dan ditancapkan di lokasi-lokasi rawan bencana.

"Kalau kayunya miring berarti ada pergerakan tanah," ujarnya.

Di Bojong Koneng, BPBD Kabupaten Bogor bersama PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) memasang tiang-tiang yang dihubungkan dengan kabel dengan kondisi kendor.

"Kalau kabelnya ketarik dan menjadi tegang berarti ada pergeseran tanah," imbuhnya.

Yani menambahkan saat ini Bojong Koneng menjadi lokasi paling rawan pergeseran tanah.

Baca juga: Kebayoran Lama Rawan Pergerakan Tanah, Camat Gandeng BPBD Lakukan Langkah Mitigasi Bencana

Baca juga: Jagakarsa Jadi Salah Satu Wilayah Rawan Longsor dan Pergerakan Tanah, Ini Tanggapan Camat

"Bojongkoneng sekarang sudah jadi perhatian karena jejaknya sudah ada dan berpotensi terulang," tuturnya.

Berdasarkan hasil kajian PVMBG, lanjut dia, pergerakan tanah di Bonong Koneng bersifat rayapan atau terjadi perlahan-lahan.

"Pergeseran tanahnya pelan-pelan. Kalau dadakan tidak ada. Itu artinya rumah-rumah yang rusak itu pergeserannya terjadi sekitar 3-4 hari," ungkap Yani.

Untuk mencegah pergeseran kembali terjadi, BPBD merekomendasikan untuk dilakukan penananaman pohon secara masif.

"Pencegahan bencana tanah geser ini mahal karena harus pasang tembok beton sepanjang berapa kilometer. Kalau mau yang alami ya tanam pohon," jelasnya.

Petugas BPBD Kabupaten Bogor memeriksa pergerakan tanah yang terus terjadi dan menghancurkan badan jalan di Kampung Curug, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (16/9/2022).
Petugas BPBD Kabupaten Bogor memeriksa pergerakan tanah yang terus terjadi dan menghancurkan badan jalan di Kampung Curug, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (16/9/2022). (Warkotalive.com/Alex Suban)

Terkait penanganan korban tanah bergerak di Desa Bojong Koneng, Yani mengakui Pemkab Bogor sudah menawarkan relokasi kepada warga Bojong Koneng yang rumahnya rusak parah.

"Relokasi itu sebenarnya upaya terakhir karena memang tidak mudah meyakinkan warga untuk pindah," paparnya.

Warga enggan pindah karena alasan ekonomi atau pekerjaan. Tak hanya itu, mereka sudah merasa nyaman di situ karena ada keluarga dan tetangga.

"Kata mereka, mending saya bersahabat dengan bencana dari pada disuruh pindah rumah. Dari 10 rumah yang rusak akibat tanah geser di Bojong Koneng, hanya 3 keluarga yang siap direlokasi," tandas Yani.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved