Protes Kenaikan Harga Kedelai, Pengrajin Banting Tempe yang Tak Laku Terjual

Harga kedelai yang naik menyebabkan puluhan pengrajin tempe di Kampung Tempe protes dengan mogok produksi dan melempar tempe yang tidak laku terjual.

Warta Kota/M. Rifqi Ibnumasy
Harga kedelai yang terus meroket menyebabkan puluhan pengrajin tempe di Kampung Tempe, Jalan Haji Mawar, RT 12 RW 03, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara layangkan protes dengan melempar dan membanting tempe yang busuk karena tak laku terjual. 

WARTAKOTALIVE.COM, TANJUNG PRIOK - Harga kedelai yang terus meroket menyebabkan puluhan pengrajin tempe di Kampung Tempe, Jalan Haji Mawar, RT 12 RW 03, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara protes.

Dalam aksinya, para pengrajin tempe tersebut keliling komplek ajak rekan-rekan seprofesi untuk mogok produksi imbas dari kenaikan harga kedelai.

Pantauan Warta Kota, mereka terlihat histeris melempar dan membanting tempe busuk karena tak laku terjual.

Seorang pengrajin tempe Mohammad Rizqon (31) mengaku, kenaikan harga kedelai sudah terjadi selama dua pekan terakhir.

Baca juga: Kondisi Kawasan Mangrove Muaragembong Mengkhawatirkan, Hilang Hingga 93,5 Persen

"Dalam seminggu kenaikan ini terjadi tiga kali mulai dari Rp 12.500 naik menjadi Rp 12.600 dan terakhir adalah Rp 13.000," Kata Rizqon di lokasi, Kamis (29/9/2022).

Akibat dari kenaikan harga bahan baku, Rizqon bersama puluhan pengrajin tempe lainnya mengaku mengalami kesulitan dalam produksi maupun penjualannya.

Harga kedelai yang melambung menyebabkan banyak produsen tempe di Kampung Tempe memilih untuk mogok produksi hingga harga stabil. 

Baca juga: Polri Sudah Serahkan Berkas Pemecetan Ferdy Sambo ke Sekretariat Milter Presiden RI

"Kenaikan kedelai ini lebih besar jadi kita selaku pengrajin tempe perihatin sampai kita mengalami pendapatan yang minim. Bahkan dampaknya ada pedagang yang sampai gulung tikar," Ungkapnya.

Rizqon mengakui pengrajin tempe kesal karena harga kedelai tak kunjung turun malah terus melambung naik.

Sehingga, mereka meluapkan kekesalannya dengan membuang hingga membanting kacang kedelai dan tempe yang mulai membusuk karena tak laku di pasaran.

Baca juga: Enggak Punya Duit, Pemprov DKI Jakarta Cari Investor Lanjutkan Proyek LRT Jakarta 

"Kita protes karena kita tidak bisa menyesuaikan harga kedelai yang naiknya tidak tentu dan langsung meroket itu yang menyebabkan tempe ga laku hingga tidak ada yang beli," Ucapnya. 

Dalam aksi tersebut, para pengrajin tempe di Kampung Tempe berharap agar pemerintah dapat menstabilkan harga kedelai bukan sekadar memberikan subsidi.

"Ya kita enggak berharap ada subsidi tapi kita berharap pemerintah dan presiden, kita pengrajin tempe berharap pemerintah turun tangan agar harga tempe stabil. Kita pengrajin tempe juga bisa bekerja seperti sedia kala," kata Rizqon. (m38)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved