Kesehatan

Biaya Penanganan Penyakit Kardiovaskular di Indonesia Tembus Rp 7,7 Triliun

Biaya penanganan penyakit kardiovaskular di Indonesia tembus Rp 7,7 triliun.

Wartakotalive.com/Mochammad Dipa
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, S.Kp., M.Kes memberikan paparan saat konferensi pers virtual Peringatan Hari Jantung Sedunia 2022, Rabu (28/9/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Deretan penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung, hipertensi, stroke, dan diabetes masih menjadi beban penyakit yang tinggi di Indonesia.

Berdasarkan Data BPJS Kesehatan 2021, dilaporkan bahwa jumlah biaya kesehatan yang digelontorkan negara untuk penanganan penyakit kardiovaskular tembus Rp 7,7 triliun. Kemudian ada kanker sebesar Rp 3,1 triliun, stroke sebesar Rp 1,9 triliun dan gagal ginjal sebesar Rp 1,6 triliun.

Hal itu disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, S.Kp., M.Kes dalam konferensi pers virtual Peringatan Hari Jantung Sedunia 2022, Rabu (28/9/2022).

Menurut Eva, terkait persoalan pembiayaan ini, jika saja kita bisa menurunkan prevalensi dari PTM, tentunya akan menghemat pembiayaan kesehtan yang dikeluarkan oleh negara. Nantinya bisa kita alihkan anggarannya untuk modal pembangunan di bidang yang lain," ucap Eva.

Lebih lanjut dijelaskan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab makin tingginya penyakit kardiovaskular. Penyakit ini memang dipengaruhi oleh tekanan darah tinggi (hipertensi), obesitas, diabetes, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik.

Namun ironisnya, hanya 3 dari 10 penderita PTM yang terdeteksi, mengingat sakit karena PTM biasanya tidak memiliki gejala yang signifikan hingga terjadi komplikasi.

Dari 3 penderita PTM tersebut, hanya satu orang yang berobat secara teratur. tentu persoalan ini harus kita jawab bagaimana faktor-faktor risiko tadi dicegah, seperti hipertensi, obesitas, merokok, konsumsi alkohol menyebabkan seluruh permasalahan penyakit tidak menular," ungkapnya.

Untuk itu ada empat langkah strategi kebijakan penyakit kardiovaskular yang Kemenkes lakukan secara bersama-sama dengan seluruh lintas sektor.

Pertama, promosi kesehatan dimana adanya  perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat.

Kedua, deteksi dini dengan melakukan identifikasi dan intervensi sejak dini dan faktor resiko dari PTM.

Langkah ketiga, adalah melakukan perlindungan khusus dengan program vaksinasi Covid-19 untuk penderita komorbid,

Keempat adalah penanganan kasus yaitu pengibatan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang sesuai standar.

“Memang yang terpenting kita harus berupaya memperbanyak  melakukan intervensi di populasi yang sehat dan populasi beresiko, karena ini biayanya lebih murah  karena memag belum ada gejala, belum ada symptoms, bila dibandingkan kita intervensi di populasi yang sudah penyadang PTM dan yang sudah disability,” tutur Eva.

41 juta penduduk dunia meninggal akibat PTM

Kemenkes menginformasikan, ada 41 juta penduduk dunia meninggal akibat PTM setiap tahunnya, di mana 17,9 juta disebabkan penyakit kardiovaskular.

Kasus di Indonesia setiap tahunnya sebanyak 651.481 penduduk meninggal akibat kardiovaskular.

Peringatan Hari Jantung Sedunia (HJS) tahun 2022 mengangkat tema global Use Heart for Every Heart dengan tema nasional Jantung Sehat Untuk Semua.

“Melalui tema HJS tahun ini, Kemenkes mengajak masyarakat untuk melakukan perubahan sederhana dalam aktivitas sehari-hari dengan menghidupkan perilaku cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet yang sehat dan seimbang, istirahat yang cukup dan kelola stres (CERDIK) agar mendapatkan jantung yang sehat,” pungkas Eva.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved