Pegawai BUMN Ini Yakin Menjadi Peserta JKN-KIS Sebagai Bentuk Investasi

Menurut Angga, menjadi peserta JKN-KIS adalah bentuk investasi dengan imbal hasil luar biasa.

dok. BPJS Kesehatan Tigaraksa
Angga Kusuma Wardani (34), seorang pegawai BUMN yakin menjadi peserta JKN-KIS adalah bentuk investasi yang memiliki imbal hasil yang luar biasa, khususnya untuk mengurangi risiko kerugian finansial akibat biaya pelayanan kesehatan yang tinggi. 

WARTAKOTALIVE.COM, TIGARAKSA – Perjalanan Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sudah memasuki tahun kesembilan.

Sampai dengan 28 Februari 2022, jumlah peserta JKN-KIS sebesar 236.877.995 yang terbagi dalam beberapa segmen kepesertaan.

Angga Kusuma Wardani (34), seorang pegawai BUMN (Badan Usaha Milik Negara), telah menjadi peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) sejak tahun 2016.

Sebagai PPU, besaran iuran JKN-KIS yang wajib dibayarkan setiap bulannya adalah 5 persen dari gaji atau upah per bulan.

“Saya sudah menerima informasi dari kantor bahwa besaran gaji saya yang dipotong untuk pembayaran iuran JKN-KIS hanya 1 persen, sisa 4 persen lagi dibayarkan oleh kantor. Saya menganggap gaji saya dipotong tersebut sebagai bentuk investasi untuk kesehatan saya dan keluarga," ungkap Angga.

Apalagi, lanjut Angga, jika dibandingkan dengan asuransi swasta, preminya jauh lebih besar dibandingkan dengan iuran JKN-KIS.

"Selain itu, jumlah 1 persen tersebut tidak hanya untuk saya sendiri, tetapi juga untuk istri dan anak-anak saya,” ujar bapak dari dua anak ini, beberapa waktu lalu.

Biaya pelayanan kesehatan makin meningkat berbanding lurus dengan perkembangan teknologi di bidang kesehatan yang makin canggih.

Tidak menutup kemungkinan orang yang kaya sekalipun dapat bangkrut jika ia tidak menyiapkan strategi ketika suatu hari membutuhkan biaya besar untuk pelayanan kesehatan.

Berangkat dari hal tersebut, Angga sangat yakin menjadi peserta JKN-KIS adalah bentuk investasi yang memiliki imbal hasil yang luar biasa, khususnya untuk mengurangi risiko kerugian finansial akibat biaya pelayanan kesehatan yang tinggi.

“Sudah menjadi rahasia umum, persalinan caesar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Saya perlu mengantongi uang puluhan juta untuk satu kali persalinan istri saya. Beruntung saya sudah berinvestasi dalam Program JKN-KIS," ungkapnya.

Bayangkan, lanjut Angga, dengan iuran yang sudah ia bayarkan yang jika dijumlahkan selama ia menjadi peserta JKN-KIS, mungkin besarannya tidak sebesar biaya yang diperlukan untuk satu kali persalinan caesar.

"Saya tidak diminta biaya satu rupiah pun oleh rumah sakit karena sudah dijamin oleh BPJS Kesehatan. Persalinan caesar ini terjadi pada kedua anak saya. Jadi, bisa dihitung sendiri berapa biaya yang harus saya keluarkan jika tidak memanfaatkan Program JKN-KIS,” jelas Angga.

Angga selalu berpikir apa yang ia tanam, pasti akan ia tuai. Melalui pembayaran iuran JKN-KIS secara rutin yang dilakukan oleh perusahaan tempat ia bekerja, ia merasakan kemudahan pada saat memanfaatkan program yang mengusung prinsip gotong royong ini.

Oleh karena itu, Angga menganggap investasi yang ia lakukan ini sangat menguntungkan untuk dirinya dan keluarganya.

Ia akan terus mendukung Program JKN-KIS dan berharap program ini berjalan secara berkesinambungan untuk membantu seluruh penduduk Indonesia yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved