Polisi Tembak Polisi

LPSK Sebut Putri Candrawathi Ogah-ogahan dengan Kasus Kekerasan Seksual

LPSK sebut istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi seperti ogah-ogahan dalam penanganan dugaan kasus kekerasan seksual yang dialaminya. 

Penulis: Desy Selviany | Editor: Desy Selviany
Istimewa
Tim khusus (Timsus) Polri melakukan pemeriksaan dengan lie detector atau melakukan uji kebohongan terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi dan asisten rumah tangganya Susi, dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Selasa (6/9/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sebut istri Ferdy Sambo Putri Candrawathi seperti ogah-ogahan dalam penanganan dugaan kasus kekerasan seksual yang dialaminya. 

Sikap Putri Candrawathi yang seperti ogah-ogahan dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang diduga dialaminya disebutkan oleh Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu Selasa (26/9/2022). 

Dalam keterangannya di Kompas Tv, Edwin Partogi Pasaribu membandingkan sejumlah kasus kekerasan seksual yang pernah ditanganinya dengan kasus Putri Candrawathi saat ini. 

Kata Edwin Partogi, biasanya korban kekerasan seksual merespon baik upaya LPSK terkait dengan perlindungan korban kekerasan seksual. 

Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Putri Candrawathi. Menurut Edwin Partogi, Putri Candrawathi terlihat tidak begitu antusias ketika ditawarkan oleh LPSK untuk perlindungan saksi dan korban.

Bahkan, Putri Candrawathi disebut tidak responsif dengan sikap yang dikeluarkan oleh LPSK. 

Baca juga: Putri Candrawathi Ngotot Mengalami Pelecehan dari Brigadir J untuk Dapat Keringanan Hukuman?

"Para pemohon semua merespon upaya LPSK untuk dalami apa yang mereka alami, tapi hal ini berbeda dengan PC. Bu PC sebagai pengaju permohonan orang butuh dukungan perlindungan bantuan LPSK tapi kok tidak responsif tidak antusias, ungkap Edwin Partogi. 

Keganjilan lain dalam kasus kekerasan seksual yang diterima Putri Candrawathi ialah terkait dengan runutan kasus. 

Kata Edwin, biasanya korban kekerasan seksual yang ditangani LPSK erat kaitannya dengan relasi kuasa. Biasanya, pelaku jauh lebih dominan ketimbang korban. 

Namun, dalam hal ini justru kebalikannya. Putri Candrawathi yang merupakan istri seorang jenderal jauh lebih memiliki relasi kuasa ketimbang pelaku yang merupakan seorang ajudan. 

Selain itu, ketidaklaziman lainnya ialah terkait dengan tempat kejadian perkara (TKP) dugaan kekerasan seksual yang dialami Putri Candrawathi.

Biasanya, TKP kekerasan seksual dilakukan pelaku di tempat yang tidak ada saksi dan di wilayah yang dikuasai penuh oleh pelaku.

Namun, dalam kasus Putri Candrawathi, TKP dilakukan di rumah Putri Candrawathi baik itu di Magelang ataupun di Duren Tiga.

Saat peristiwa terjadi, di TKP juga terdapat para ajudan suami Putri Candrawathi yang lainnya sehingga banyak saksi mata di tempat tersebut. 

Hal inilah yang membuat LPSK meyakini bahwa Putri Candrawathi ialah korban palsu dalam kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh Brigadir J

 

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved