Kurs Mata Uang

Gagal Meroket, Rupiah Makin Tak Berdaya pada Selasa 27 September, Tembus Rp 15.156 per dolar AS

Pada Selasa (27/9/2022), Indeks dolar AS yang terus merangkak naik membuat rupiah tertekan di level Rp 15.156 per dolar Amerika

Editor: Feryanto Hadi
Antara
Ilustrasi kurs mata uang. Pada Selasa 27 September, rupiah kembali mengalami penekanan dari mata uang Dollar Amerika Serikat 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Nilai tukar rupiah kembali tak berdaya melawan dolar Amerika Serikat (AS) di akhir September 2022 ini.

Pada Selasa (27/9/2022), Indeks dolar AS yang terus merangkak naik membuat rupiah kesulitan menguat.

Bahkan, rupiah spot berada di level Rp 15.156 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Kontan, angka ini membuat rupiah melemah 0,17 persen dibanding penutupan Senin (26/9) di Rp 15.130 per dolar AS. Pergerakan rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang di kawasan.

Hingga pukul 12.00 WIB, sebagian besar mata uang di kawasan menguat. Di mana, rupee India menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,31 persen .

Baca juga: Bambang Soesatyo Targetkan Indonesia Bisa Menjadi Pemegang Saham Mata Uang Digital Terbesar di Dunia

Berikutnya, won Korea Selatan yang menanjak 0,26 persen dan dolar Singapura yang terkerek 0,17%. Disusul, yen Jepang yang terapresiasi 0,15%.

Kemudian ada dolar Taiwan yang terangkat 0,10% serta baht Thailand yang naik 0,005%. Lalu, dolar Hong Kong terlihat menguat tipis 0,001%.

Sementara itu, yuan China menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,36%. Diikuti, ringgit Malaysia yang turun 0,16%.

Selanjutnya, peso Filipina terlihat melemah tipis 0,07% terhadap the greenback di tengah hari ini.

Penjelasan Sri Mulyani

Sebelumnya, disadur Warta Kota dari Kompas.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penguatan dollar Amerika Serikat (AS) telah memukul nilai tukar seluruh mata uang di dunia, termasuk Indonesia.

Penguatan dollar AS itu tak lepas dari kebijakan Bank Sentral AS yang menaikkan suku bunga acuannya.

"Indeks dollar mengalami penguatan hingga 110. Kalau dollar menguat berarti lawan mata uang lainnya, terutama emerging market, mengalami depresiasi. Semakin kuat dollar berarti lawannya semakin melemah," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (26/9/2022)

Ia menjelaskan, tekanan pasar keuangan global yang sempat mereda kembali mengalami bergejolak, terutama di sepanjang September 2022.

Halaman
12
Sumber: Kontan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved