Jokowi: 80-90 Persen Startup Gagal karena Tidak Lihat Kebutuhan Pasar dan Kehabisan Dana

Startup Indonesia, lanjut Jokowi, tertinggi keenam di dunia, setelah Amerika Serikat, India, Inggris, Kanada, dan Australia.

Editor: Yaspen Martinus
Biro Setpres
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat dan tertinggi di Asia Tenggara. 

WARTAKOTALIVE, TANGERANG - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat dan tertinggi di Asia Tenggara.

"Melompat delapan kali lipat dari 2020 kira-kira Rp632 triliun, melompat menjadi Rp4.531 triliun nanti di 2030," kata Jokowi saat membuka BUMN Startup Day 2022, di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (26/9/2022), dikutip dari laman setkab.go.id.

Artinya, kata Jokowi peluang ekonomi digital sangat besar, dan menjadi kesempatan bagi kaum muda, karena pengguna internet di Indonesia kini menembus 77 persen, dan penggunaannya 8 jam 36 menit setiap hari.

Startup Indonesia, lanjut Jokowi, tertinggi keenam di dunia, setelah Amerika Serikat, India, Inggris, Kanada, dan Australia.

"Ini juga sebuah potensi yang besar, yang harus kita kembangkan. Tapi hati-hati, dari kategori yang saya lihat, memang yang paling besar masih di fintech 23 persen, kemudian retail ada 14 persen."

"Padahal tadi kalau kita lihat, urusan masalah krisis pangan, urusan pangan ke depan ini akan menjadi persoalan besar yang harus dipecahkan oleh teknologi."

Baca juga: Boyamin Ungkap Gubernur Papua Lukas Enembe Kerap Berjudi di Singapura, Malaysia, dan Filipina

"Itu adalah kesempatan, itu adalah peluang, itu adalah opportunity, dan agrikultur hanya 4 persen."

"Hati-hati, ini ada kesempatan besar di situ. Karena di dalam urusan pangan itu ada yang namanya urusan produksi, ada yang namanya urusan distribusi, ada yang namanya urusan pasar."

"Di sini ada peluangnya semuanya, urusan distribusi ada, urusan produksinya ada, urusan pasarnya, ada peluang semuanya," papar Jokowi.

Baca juga: Bilang Bisa Setop Kasus Lukas Enembe, ICW Nilai KPK Terlalu Berlebihan dan Diskriminatif

Urusan pangan, imbuh Jokowi, tidak hanya urusan beras komoditas yang lainnya juga banyak sekali.

"Sayur, sayur pun juga macam-macam jenisnya. Pangan tidak hanya beras, hati-hati, ada sorgum, ada porang, ada cassava, ada sagu, dan lain-lainnya."

"Sehingga ini menjadi sebuah peluang besar dan target konsumen dari petani di ladang, dari nelayan di lautan, sampai masuk melompat ke dapurnya ibu-ibu rumah tangga. Peluangnya sangat besar sekali," tuturnya.

Baca juga: Hakim Agung Sudrajat Dimyati Jadi Tersangka, Jokowi Nilai Reformasi Hukum Urgen Dilakukan

Urusan kesehatan hingga krisis kesehatan, juga peluangnya sangat besar bagi startup.

"Kita ini negara dengan 17 ribu pulau, 514 kabupaten/kota, 34 provinsi, apa yang bisa kita lakukan agar kesehatan kita ini bisa melompat? Telemedisin bisa disambungkan, operasi jarak jauh bisa disambungkan dengan platform, dengan aplikasi."

"Juga yang ketiga, yang selalu ini saya sampaikan, UMKM, UMKM. Hati-hati, kita memiliki 65,4 juta UMKM."

Baca juga: Ziarah ke Makam Taufiq Kiemas dan Dapat Kue Ultah dari Puan, Cak Imin Berdoa Minimal Jadi Wapres

"Memang masih banyak persoalan, urusan kemasan, urusan kualitas produksi, urusan kapasitas produksi, tetapi di situ baru 19 juta yang masuk ke platform digital, sehingga masih ada ruang yang sangat besar untuk bisa kita kerjakan di sana."

"Hati-hati, 80 persen sampai 90 persen startup gagal saat merintis, karena sekali lagi, tidak melihat kebutuhan pasar yang ada."

"Berangkatnya mestinya dari kebutuhan pasar yang ada itu apa. Yang kedua, juga karena kehabisan dana."

"Ini nanti fungsinya venture capital, fungsinya BUMN, agar ekosistem besar yang ingin kita bangun ini bisa saling sambung, sehingga semuanya terdampingi dengan baik dan bisa tidak gagal untuk masuk ke pasar-pasar, ke peluang-peluang yang ada di negara kita," papar Jokowi. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved