Jadi Nelayan di Muara Angke, Maryadi Sukses Sekolahkan Anak Hingga Sarjana dan Punya 8 Kontrakan

Maryadi, salah satu nelayan tradisional di Pelabuhan Perikanan Muara Angke yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman untuk sekolahkan anak.

Warta Kota/Yolanda Putri Dewanti
Maryadi (47) salah satu nelayan tradisional di Pelabuhan Perikanan Muara Angke yang berlokasi di Jalan Dermaga I, No.1 RT 002/RW011, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. 

WARTAKOTALIVE.COM, PENJARINGAN - Perjuangan seorang bapak sebagai kepala rumah tangga tak akan pernah luntur, walaupun itu harus mempertaruhkan nyawa mereka sekalipun. Mereka bahagia asalkan mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarga tercintanya.

Maryadi (47) merupakan salah satu nelayan tradisional di Pelabuhan Perikanan Muara Angke yang berlokasi di Jalan Dermaga I, No.1  RT 002/RW011, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Maryadi memiliki 1 orang anak yakni Andari (26) yang berhasil menempuh pendidikan hingga sarjana. Bahkan kini anak semata wayangnya itu sudah menikah dan dikaruniai 2 orang putri kecil.

Walaupun sudah lanjut usia dan memiliki anak yang bisa di bilang mampu untuk menafkahi dan merawatnya, Maryadi tetap ingin bekerja dan tidak ingin merepotkan anaknya. Dirinya ingin menafkahi istri tercintanya dengan hasil jerih payahnya sendiri.

Baca juga: Wujudkan Desa Wisata Berkelas Dunia, UI Implementasi CHSE dan Mitigasi Bencana di Gunung Padang

Ditemui Wartakotalive.com, Maryadi tengah sibuk memperbaiki jaring ikan yang rusak akibat menyangkut di limbah-limbah perairan. Sesekali, ia beristirahat sejenak sembari menyeruput satu gelas kopi atau susu hangat.

Ketika menjelang sore hari, sekiranya pukul 16.00 WIB, Maryadi bersama rekannya yang lain mempersiapkan diri untuk pergi mencari ikan di lautan.

Tak lupa, Maryadi membawa beras, mi instan, kompor, sayur-sayuran, dan juga air untuk bekalnya di perahu. Selain itu, pria yang mengenakan topi hitam ini juga membawa sarung untuk persiapan salat di atas perahu kebanggaannya.

"Saya tinggal tak begitu jauh dari sini, masih di kawasan Pluit juga jadi tinggal jalan saja kalau mau ke Pelabuhan. Biasa saya melaut itu pagi hari, tapi sekarang berangkatnya mulai sore hari sampai bertemu pagi hari lagi sekitar pukul 07.00 WIB baru saya balik ke daratan," ucap Maryadi di lokasi, Senin (26/9/2022).

Baca juga: Perkuat Nilai Kekeluargaan, Alumni Universitas Trisakti Gelar Silaturahmi Olahraga Fun Match Soccer

Maryadi menuturkan, sejak masih sendiri atau belum berumah tangga. Mata pencaharian utamanya memang mencari ikan di laut. Sehingga, selama 35 tahun dirinya sudah merasakan asam garam kehidupan menjadi seorang nelayan.

"Dari saya belum menikah memang dari awal sudah di sini (Pelabuhan Muara Angke). Sekiranya usia saya 18 tahunan sudah mengadu nasib di Ibu Kota," ungkap dia.

Pria asal Indramayu, Jawa Barat ini menceritakan suka dan duka menjadi nelayan tradisional selama puluhan tahun.

Dari mulai tak mendapatkan ikan sama sekali, perahu yang dimilikinya tenggelam akibat cuaca ekstrem, hingga tak mampu membiayai anaknya kuliah.

Baca juga: Anies Baswedan Lihat Tumpukan Sampah di Pintu Air Manggarai, Jadi Latar Belakang Dibuat Saringan

"Berjuang hidup di Jakarta itu memang berat, tetapi saya berprinsip untuk selalu semangat dan kerja keras. Seperti sekarang ini, dahulu saya carinya rajungan dan udang dari pagi sampai sore hari. Kalau sekarang berubah, dari sore hari sampai ketemu pagi lagi. Kalau sekarang carinya ikan, soalnya kan banyak limbah sudah jarang ada seperti rajungan itu. Senangnya kalau kalau dapat ikan banyak, dukanya saya pernah ada di titik sering tidak dapat ikan. Terus kalau lagi sepi terpaksa minjam bandar yang ambil ikan saya," jelas dia.

Usai mencari ikan dan kembali ke daratan, Maryadi bersama rekannya langsung menjual ikan yang didapatkan di pelalangan ikan tak jauh dari pelabuhan.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved