Polisi Tembak Polisi

Polri Sebut Saksi Kunci Brigjen Hendra yakni AKBP AR sedang Sakit, Ini kata Pakar Psikologi Forensik

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan sakitnya AKBP Arif Rahman sebagai saksi kunci Brigjen Hendra Kurniawan mesti dijelaskan

warta kota
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan sakitnya AKBP Arif Rahman sebagai saksi kunci Brigjen Hendra Kurniawan mesti dijelaskan secara jelas oleh Polri 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Dalam pekan ini ada tiga kasus hukum yang orang-orang terkait di dalamnya disebut-sebut sakit. Ada Gubernur Papua Lukas Enembe, lalu wanita emas Mischa Hasnaeni Moen alias MHM dan AKBP Arif Rahman (AR) yang disebut sebagai saksi kunci kasus obstruction of justice pembunuhan Brigadir J yakni Brigjen Hendra Kurniawan.

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan Lukas Enembe, kata dokternya, stroke sejak 2015.

"Lalu bagaimana kebijakan-kebijakan yang dia hasilkan sebagai kepala daerah? Coba cek ulang hasil pemeriksaan RSUD Dok II Jayapura tanggal 11 Januari 2018, lalu periksa rekomendasi KPU Papua berdasarkan hasil cek medis LE itu. Kalau LE saat itu sudah diketahui mengalami stroke, apalagi sampai tidak bisa bicara, RSUD dan KPU patut dimintai pertanggungjawabannya," kata Reza kepada Wartakotalive.com, Jumat (23/9/2022).

Terkait wanita emas Hasnaeni atau MHM, kata Reza, Kejaksaan Agung sudah paten betul. "Tidak gampang percaya pada klaim sakit. Semoga JPU nantinya akan menjadikan malingering-nya MHM sebagai alasan untuk menuntut MHM dengan hukuman lebih berat lagi," ujar Reza.

"Kalau AKBP AR disebut sebagai saksi kunci Brigjen HK, sebenarnya apa maknanya? Apakah sebagai saksi yang sangat potensial membuktikan kesalahan Brigjen HK? Atau justru sebagai saksi yang akan meringankan Brigjen HK?," ujar Reza.

Kalau AKBP Arif Rahman atau AR adalah saksi kunci, menurut Reza yang meringankan, maka sidang etik nantinya bisa saja menghasilkan putusan antiklimaks atas diri Brigjen HK.

Baca juga: Jet Pribadi Brigjen Hendra Kurniawan ke Jambi, Berasal dari San Marino, Biaya Sewanya Rp1,2 Miliar

"Bahkan berikutnya mungkin juga berdampak terhadap Irjen FS. Itu semua kontras tajam dengan prediksi dan ekspektasi masyarakat," ujarnya.

Sisi lain, ujar Reza, AKBP AR disebut-sebut sedang sakit serius. "Maaf kata; karena belum lama ini masyarakat juga disodori simpulan Komnas HAM dan Komnas Perempuan bahwa PC diduga kuat mengalami kekerasan seksual dan menderita guncangan jiwa, maka  masuk akal kalau sekarang masyarakat juga bertanya-tanya ihwal kebenaran sakitnya AKBP AR," katanya.

Sakitnya AKBP Arif Rahman, menurut Reza tidak berada dalam konteks klinis, melainkan dalam konteks forensik.

"Artinya, kepentingan kita bukan pada sembuh atau sakitnya AKBP AR, melainkan pada seberapa jauh kondisi AKBP AR itu berpengaruh terhadap berlanjut atau mandeknya proses hukum Brigjen H dan AKBP AR sendiri," ujarnya.

Baca juga: Saksi Kunci Masih Sakit, Sidang Etik Brigjen Hendra Kurniawan Ditunda Pekan Depan

"Jadi, ini merupakan isu publik, bukan isu tentang kerahasiaan medis pribadi," tambah Reza.

Karena itu, menurut Reza, Polri perlu menyampaikan ke publik bahwa AKBP Arif Rahman sakit apa dan seserius apa kondisinya.

"Dan apakah penyakitnya muncul alami atau karena diinduksi. Kedua, Polri sudah atau belum libatkan dokter lain untuk kasih second opinion. Ketiga, penjelasan tentang nasib kasus Brigjen HK jika AKBP AR tak kunjung bisa dihadirkan di persidangan," ujar Reza.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved