Polisi Tembak Polisi

Nilai Permohonan Perlindungan Putri Candrawathi Paling Unik, LPSK: Dia yang Butuh tapi Tak Antusias

Edwin merasa dalam kasus permohonan Putri Candrawathi ini, LPSK seakan tidak dibutuhkan oleh yang bersangkutan.

Editor: Yaspen Martinus
istimewa
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menilai permohonan perlindungan yang diajukan Putri Candrawathi, paling unik yang pernah diterima pihaknya. 

WARTAKOTALIVE, BANDUNG - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menilai permohonan perlindungan yang diajukan Putri Candrawathi, paling unik yang pernah diterima pihaknya.

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu menyatakan, keunikan tersebut dikarenakan selama pelaporan itu diterima, Putri Candrawathi tidak mau berbicara apa pun dengan pihaknya.

"Permohonan yang unik kenapa? Karena satu-satunya pemohon sepanjang LPSK berdiri, yang tidak bisa, tidak mau dia menyampaikan apa pun kepada LPSK."

"Padahal dia yang butuh LPSK, bukan LPSK butuh Ibu PC," kata Edwin kepada awak media, saat Media Gathering di Cikole, Lembang, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/9/2022).

Edwin merasa dalam kasus permohonan Putri Candrawathi ini, LPSK seakan tidak dibutuhkan oleh yang bersangkutan.

Padahal, kata Edwin, yang melayangkan permohonan perlindungan itu Putri Candrawathi melalui suaminya, Ferdy Sambo.

Baca juga: Epidemiolog UI: Akhir Pandemi Covid-19 Keputusan Politik, Bukan Keputusan Epidemiolog

Seharusnya, lanjut Edwin, Putri Candrawathi lebih proaktif menyampaikan keterangan kepada LPSK, dan bukan malah sebaliknya.

"Ibu PC yang butuh permohonan, artinya Ibu PC butuh perlindungan LPSK, tapi tidak antusias, tapi tidak responsif gitu."

"Hanya ibu PC pemohon yang seperti itu selama 14 tahun LPSK berdiri," ungkapnya.

Baca juga: Buru Hacker Bjorka, Tim Khusus Polri Tiap Hari Gelar Rapat

Beberapa konteks permohonan perlindungan dalam kasus dugaan kekerasan seksual juga tidak terpenuhi.

Setidaknya, kata dia, ada dua hal yang janggal dan tak pernah ditemui oleh pihaknya pada pelaporan Putri Candrawathi perihal kasus dugaan kekerasan seksual.

Hal yang dimaksud kata dia, perihal relasi kuasa antara pelaku dan korban, serta soal kondisi aman bagi pelaku, perihal lokasi tempat kejadian, yang saat itu masih ada saksi, yakni Kuwat Maruf dan Susi.

"Banyak hal yang sering saya sampaikan, pada konteks kekerasan seksual umumnya ada dua hal terpenuhi. Satu, relasi kuasa. Dua, pelaku memastikan tidak ada saksi. Dua-duanya gugur pada kasus Ibu PC," beber Edwin. (Rizki Sandi Saputra)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved