Aktivis Anti Hoaks Kecewa Maraknya Merek Dagang Asing Diperjualbelikan

Husin mengungkapkan rasa kecewanya terhadap salah satu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) produsen air galon sekali pakai.

Editor: Mohamad Yusuf
Istimewa
Ilustrasi galon air. Maraknya perusahaan asing yang hanya mempatenkan nama merek dan menjual lisensi produknya saja tanpa harus memproduksi barang dalam bentuk fisik kepada perusahaan lokal, menjadi keresahan tersendiri di kalangan masyarakat termasuk dalam media sosial, Twitter. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Maraknya perusahaan asing yang hanya mempatenkan nama merek dan menjual lisensi produknya saja tanpa harus memproduksi barang dalam bentuk fisik kepada perusahaan lokal, menjadi keresahan tersendiri di kalangan masyarakat termasuk dalam media sosial, Twitter.

Salah satu keresahan tersebut disampaikan aktivis anti hoaks, Husin Shahab. Ketua Cyber Indonesia itu memberikan pendapatnya mengenai kebohongan merek dagang asing yang diperjualbelikan di Indonesia.

Dalam cuitannya, Husin mengungkapkan rasa kecewanya terhadap salah satu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) produsen air galon sekali pakai yang disebutnya membohongi masyarakat.

Baca juga: VIDEO Kabar Hoax Cita Citata dan Didi Mahardika Menikah, Benarkah?

Baca juga: Soal Transaksi Rp560 Miliar ke Kasino Judi Luar Negeri, Lukas Enembe: Hoaks

“Ternyata selama ini kita dibohongi oleh perusahaan AMDK produsen air galon sekali pakai dengan merek asing yang ngaku-ngaku produk lokal,” ungkapnya dalam akun Twitter @HusinShihab, ketika dikutip, Jumat (23/9/2022).

Lebih lanjut Husin menegaskan bahwa lisensi merek AMDK produsen air galon tersebut ternyata tidak dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan lokal Indonesia, melainkan dimiliki oleh sebuah perusahaan offshore cangkang yang berkantor di sebuah pulau yang dikenal sebagai surga pajak (tax haven).

Tax haven mengandung arti sebagai suatu daerah di mana pajak yang dikenakan sangatlah rendah bahkan bebas pajak. Sehingga sangat cocok untuk mendirikan perusahaan offshore.

“Menjadi pertanyaan, kenapa satu perusahaan sampai menggunakan lisensi merek baru dari perusahaan luar negeri jika semua resource di dalam negeri mereka punyai? Kecuali ada merek yang sudah exist dan ingin mereka pasarkan di dalam negeri, tapi ini merk baru loh! Do u get it?” tuturnya.

Husin pun mempertanyakan terkait skema pembayaran royalty ke pemilik lisensi merk dan pembayaran royalti secara berulang ke perusahaan cangkang tersebut yang menjadi pemasukan bagi perusahaan tersebut.

“Ya apalagi kalau bukan pemindahan kekayaan. Jadi, tak sepenuhnya yang mengaku anak bangsa berkontribusi 100 persen ke Negara. Atau mungkin yg dimaksud adalah anak bangsa – bangsa BVI?” pungkas Husin.

Cuitan dari Husin lantas menjadi pembicaraan netizen di media sosial. Banyak dari mereka yang sepakat dengan keresahan yang dilontarkan Ketua Cyber Indonesia itu.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Baca Juga
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved