Kesehatan

PB IDI Rekomendasi Pemberian Vaksin Cacar Monyet Dipusatkan Ke Dinkes Kabupaten/Kota

Satgas Monkeypox PB IDI memberikan rekomendasi untuk pemberian vaksin cacar monyet di desentralisasi ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Wartakotalive.com/Mochammad Dipa
Ketua Satgas Monkeypox PB IDI dr. Hanny Nilasari saat konferensi pers virtual mengenai rekomendasi lanjutan Satgas Monkeypox PB IDI, Rabu (21/9/2022) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) telah menetapkan wabah cacar monyet atau monkeypox sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada tanggal 23 Juli 2022 lalu.

Berdasarkan data yang dilansir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia bahwa per 19 September 2022, terdapat total terkonfirmasi 62.406 kasus cacar monyet terjadi di dunia. Sebanyak 104 negara telah melaporkan kasus monkeypox, termasuk Indonesia.

Ketua Satgas Monkeypox PB IDI dr. Hanny Nilasari menyebutkan, berdasarkan data dari Kemenkes RI per 19 September 2022 , di Indonesia hanya terdapat satu kasus terkonfirmasi monkeypox. Adapun status dari pasien tersebut saat ini sudah sembuh.

“Pasien merupakan laki-laki berusia 27 tahun, terkonfirmasi monkeypox dari hasil Swab-PCR pada 19 Agustus 2022 dengan riwayat bepergian ke luar negeri. Pasien sudah dinyatakan sembuh pada 28 Agustus 2022,” ujar dr. Hanny saat konferensi pers virtual, Rabu (21/9/2022).

Ketua Satgas Monkeypox PB IDI dr. Hanny Nilasari saat konferensi pers virtual (1)
Ketua Satgas Monkeypox PB IDI dr. Hanny Nilasari saat konferensi pers virtual mengenai rekomendasi lanjutan Satgas Monkeypox PB IDI, Rabu (21/9/2022)

Satgas Monkeypox PB IDI juga menyebut sebanyak 90 persen kasus terkonfirmasi cacar monyet atau monkeypox terjadi pada kalangan homoseksual atau yang akrab disapa LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Akibatnya, Satgas Monkeypox PB IDI memberikan rekomendasi agar edukasi terkait penularan melalui hubungan seks sesama jenis ini dapat tersebar secara menyeluruh. Diakui bukan tidak mungkin vaksinasi bisa menjadi pertimbangan untuk diberikan kepada kelompok tersebut.

“Maka direkomendasikan untuk memberikan komunikasi, informasi dan edukasi terkait risiko penularan dan ini juga bisa menjadi pertimbangan Kemenkes dalam pemberian vaksinasi,” ungkapnya.

Awalnya, Kemenkes mencanangkan pemberian vaksin cacar monyet terhadap populasi yang berisiko tinggi untuk mencegah penularan serta gejala berat saat terinfeksi cacar monyet.

Selain orang yang memiliki riwayat kontak langsung dengan seseorang yang terinfeksi monkeypox, Satgas menyarankan agar kelompok yang dalam hal ini menularkan secara hubungan seksual juga diprioritaskan menerima vaksin.

“Kalau hal itu diakui oleh pasien tentunya akan kita golongkan dalam kelompok yang berisiko atau prioritas untuk mendapatkan vaksinasi,” ujar dr. Hanny.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved