Kenaikan Harga BBM

Miris Lihat ABK Kapal di Kampung Nelayan Cilincing, Hidup Pas-pasan Akibat Kebijakan Presiden Jokowi

Pemerintah tampaknya tak tahu kondisi nelayan saat ini, setelah Presiden Jokowi menaikkan harga BBM. Semua dianggap aman.

Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Valentino Verry
warta kota/m rifqi ibnu masy
Rohimudin, nelayan di kampung Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (14/9/2022), mengungkapkan kegundahannya akibat kebijakan Presiden Jokowi yang menaikkan harga BBM. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Rohimudin (27) sudah lima tahun menekuni profesi sebagai anak buah kapal (ABK) di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara.

Tiap hari, ia mengoperasikan sebuah perahu untuk mengantarkan para nelayan dan masyarakat umum menyebrang dari Dermaga Cilincing ke Muara Gembong Bekasi, Jawa Barat.

Namun, pekerjaan kian berat di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Terlebih ia membutuhkan sekitar 40 liter bensin untuk menjalankan perahunya.

"Seperti kerja bakti saja begitu, nggak ada sisanya sekarang Bang. Misalkan keuntungan Rp 1 juta dipotong BBM itu 40 liter harga Rp 400.000, olinya dua oli samping, jadi semua Rp 500.000," ungkapnya, Selasa (13/9/2922).

"Kita kan beli enggak bisa langsung di SPBU, harus eceran karena enggak bisa pakai jerigen, harganya lebih lah," sambungnya.

Rohim menjelaskan, sebelum kenaikan BBM tarif yang dipatok untuk penumpang Rp 15.000, untuk nelayan, dan Rp 20.000 untuk masyarakat umum.

Baca juga: Memanas, Ribuan Mahasiswa Masih Bertahan di Patung Kuda Tolak Harga BBM Naik

Namun, pasca kenaikan BBM, tarif yang dikenakan bagi penumpang pun turut dinaikkan Rp 5.000.

"Ada kenaikan tarif, biasanya Rp 15.000, sekarang udah Rp 20.000, naiknya Rp 5.000," kata Rohim di Pelabuhan Cilincing.

Menurut Rohim, dalam sehari kapalnya membutuhkan BBM sekitar 40 liter untuk perjalanan pulang-pergi dengan kisaran harga Rp 400.000. 

Baca juga: Kadin Menilai Dana Subsidi BBM Lebih Baik Dialokasikan ke Pembangunan Sekolah Hingga Rumah Sakit

Belum lagi, perahu yang Rohim kemudikan membutuhkan pelumas dengan kisaran harga Rp 100.000.

"Ya berpengaruh, namanya kita pakai BBM-nya bensin yang harusnya misalkan 40 liter itu Rp 400.000 jadi naik," ungkapnya.

"Kita di sini beli eceran, Rp 400.000 itu belum oli, oli aja Rp 100.000 berarti total Rp 500.000. Gara-gara BBM naik, kita kena imbasnya," sambungnya.

ABK di kampung nelayan Cilincing tengah mempersiapkan solar yang hendak dibawa untuk melaut.
ABK di kampung nelayan Cilincing tengah mempersiapkan solar yang hendak dibawa untuk melaut. (warta kota/m rifqi ibnu masy)

Perahu yang Rohim kemudikan biasanya digunakan oleh para nelayan untuk mengangkut hasil tangkapan ikan dari Muara Gembong Bekasi untuk dijual ke pelelangan ikan di Cilincing.

Meskipun, transportasi laut tersebut itu juga melayani perjalanan untuk masyarakat umum yang ingin bepergian melalui jalur laut. 

Seorang penumpang Muksin Taryudin (44) mengaku kan transportasi laut sebagai kendaraan hariannya.

Pasalnya, sebagai seorang nelayan di Muara Bendera Bekasi, Muksin harus menjual hasil tangkapan ikan di pelelangan Pelabuhan Cilincing.

"Kenaikan tarif ini biasa saja bagi saya, soalnya BBM juga naik," pungkasnya sembari menunggu perahunya berlayar.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved