Kesehatan

FKUI dan Konimex Luncurkan KODC Dengue, Alat Deteksi Cepat Penyakit Demam Berdarah Dengue

Tim Peneliti FKUI dan IMERI FKUI bekerja sama dengan PT Konimex meluncurkan KODC Dengue, alat deteksi dini demam berdarah dengue.

dok. Humas Universitas Indonesia
Departemen Mikrobiologi FKUI dan IMERI FKUI bersama PT Konimex meluncurkan KODC Dengue, yakni alat untuk mendeteksi cepat penyakit demam berdarah. 

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK -  Tim Peneliti dari Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan IMERI FKUI bekerja sama dengan PT Konimex meluncurkan KODC Dengue, yaitu alat deteksi dini penyakit demam berdarah dengue.

Alat ini diklaim dapat menemukan gejala klinis yang tidak spesifik pada pasien ketika terinfeksi dengue. Cara kerja dari alat ini menggunakan prinsip Lateral Flow Immunochromatographic Assays (LFIAs) untuk mendeteksi antigen dengue, yaitu protein NS-1 yang ada didalam darah pasien, baik dalam darah utuh, plasma, maupun serum.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan, hadirnya kit deteksi dini ini menunjukkan beberapa hal, yang pertama kualitas riset kita tidak hanya berakhir pada publikasi jurnal, tetapi juga pada penciptaan suatu produk yang dapat dipakai langsung di fasilitas kesehatan.

"Kedua, produk tersebut bersifat praktis, murah, mudah digunakan dan punya sensitifitas yang tinggi. Ketiga, terjalin kolaborasi yang kuat antara peneliti di universitas, klinisi di rumah sakit dan pihak swasta, serta yang paling penting dapat di produksi di dalam negeri," ungkap Dante dalam keterangan, Sabtu (10/9/2022).

Sementara, Ketua tim peneliti, Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D., menyampaikan bahwa gejala klinis yang tidak spesifik pada pasien ketika terinfeksi dengue, menyulitkan klinisi untuk menegakkan diagnosis. Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam penatalaksanaan pasien sehingga dapat menyebabkan kematian.

Ketua tim peneliti, Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D luncurkan KODC Dengue
Ketua tim peneliti, Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D dari Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), foto bersama produk kit KODC Dengue, yaitu alat deteksi dini demam berdarah.

"Sebelum masuk pada fase kritis, Penatalaksanaan infeksi dengue di awal dapat menurunkan angka kematian. Oleh karena itu, diperlukan alat diagnostik yang dapat mendeteksi infeksi dengue di awal infeksi dengan waktu yang singkat, tanpa memerlukan fasilitas laboratorium berteknologi canggih dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi," ungkapnya.

Enam keunggulan KODC Dengue

Beti menyebutkan, alat deteksi dini demam berdarah KODC Dengue ini memiliki enam keunggulan. Pertama, alat deteksi ini bekerja dengan cepat.

"Dalam prosesnya memerlukan waktu 15 menit untuk menentukan ada tidaknya infeksi dengue," ujarnya.

Kedua, sensitif karena berbasis strain DENV (Virus Dengue) yang beredar di Indonesia. Ketiga, spesifik karena dikembangkan berdasarkan epitop DENV yang tidak cross reaksi dengan virus lain.

“Keempat, relatif murah karena produksi dalam negeri dan juga dapat mendeteksi infeksi DENV dengan berbagai macam tipe spesimen yaitu plasma, serum, dan whole blood. Kelima, dapat disimpan di suhu kamar sehingga tidak memerlukan cool chain dalam pengiriman dan penyimpanan. Keenam, dapat mendeteksi NS-1 dari sampel darah utuh,” papar Beti.

Tim peneliti yang terlibat dalam pengembangan KODC Dengue adalah dr. Mirawati Sudiro, Ph.D; Fithriyah, M.Biomed, Ph.D.; Evy Suryani dan Hidayati Desti dari Departemen Mikrobiologi Klinik FKUI-RSCM/Infectious Disease and Immunology Cluster IMERI FKUI, Andriansjah, S.Si, M.Biomed, Ph.D., dari Departemen Mikrobiologi Klinik FKUI-RSCM, dan Dr. dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD-KPTI., dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM/ Infectious Disease and Immunology Cluster IMERI FKUI.

"Saya ucapkan selamat kepada Beti Ernawati Dewi dan tim atas inovasinya yang luar biasa. Penemuan ini berhasil melengkapi rangkaian inovasi dan terobosan peneliti Indonesia, khususnya para peneliti FKUI, di bidang deteksi dini demam berdarah sebelumnya. Indonesia sebagai negara endemis DBD tentu saja sangat terbantu dengan adanya inovasi ini,” sambut Dekan FKUI, Ari Fahrial Syam.

Ari berharap diagnosis DBD berjalan lebih cepat dan akurat sehingga penanganan optimal dapat segera diberikan.

"Saya harap, pencapaian ini mampu menarik antusiasme peneliti sekaligus industri dalam negeri untuk terus berkolaborasi dan berinovasi dalam mengembangkan kemandirian bangsa di bidang penyediaan alat kesehatan," ujarnya.

KODC DENGUE berpotensi digunakan oleh seluruh penduduk di daerah tropis yang berisiko terinfeksi dengue. Bentuknya yang praktis dan cara kerjanya yang mudah memungkinkan produk ini dapat diaplikasikan di rumah sakit, klinik, maupun laboratorium yang memiliki fasilitas pengambilan darah dari pasien. Nilai sensitivitas dan spesifisitas KODC Dengue adalah 100 persen dan 99,08 persen secara berurutan.

KODC Dengue merupakan kit produksi dalam negeri dapat sehingga dapat menunjang kemandirian bangsa dalam penyediaan alat kesehatan. Selain itu dapat menekan biaya sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia yang berisiko terinfeksi DENV dengan harga yang relatif lebih murah.

Sementara itu, Direktur Utama PT Konimex, Rachmadi Joesoef mengatakan bahwa perjalanan produk KODC Dengue ini dimulai pada tahun 2016 dari keinginan untuk mengupayakan agar setiap masyarakat Indonesia dapat mendeteksi awal penyakit-penyakit secara umum dan dapat melakukan tindakan preventif yang tepat.

“Langkah awal yang dilakukan adalah berkerja sama dengan para peneliti yang ada di Fakultas Kedokteran UI sehingga pada tahun 2022 bisa meluncurkan produk ini ke masyarakat. Terima kasih kami ucapkan kepada Dekan FKUI dan kepada Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D, Dr. dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD-KPTI serta seluruh peneliti yang terlibat dalam proses lahirnya produk ini,” ujar Rachmadi.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved