Kabar Tokoh

Hari Ini dalam Sejarah, Melihat Peran Besar AR Baswedan, Pelopori Peranakan Arab Berjuang untuk NKRI

AR Baswedan merupakan tokoh peranakan Arab-Indonesia yang menjadi wakil Badan Usaha Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Editor: Feryanto Hadi
Tribun Wiki
AR Baswedan 

Umar menikahi Aliyah seorang perempuan asal Bangil.

Pernikahannya menghasilkan 10 anak, yang salah satunya adalah Awad yaitu ayah dari Abdurrahman Baswedan.

Kaum Hadrami yang melakukan migrasi sebagian besar datang tanpa membawa istri.

Mereka menikahi perempuan lokal dan mempunyai anak di Indonesia.

Pada umur 6 tahun, AR Baswedan belajar di Madrasah Al Khairryah di Ampel, Surabaya.

Namun karena perlakuan diskriminatif, ayahnya memindahkannya ke Madrasah Al Maa’rif.

Selain itu, AR Baswedan juga turut bersekolah di Madrasah Al-Irsyad di Batavia.

Karena ayahnya sakit, AR Baswedan kemudian meneruskan pendidikannya di Hadramaut School, Surabaya dengan asuhan Sayyid Muhammad bin Hashim yaitu editor Hadramau Courant dan Al-Bashir, majalah berbahasa Arab pertama di Hindia Belanda.

Tribunnewswiki.com mengumpulkan beberapa sumber terkait pekerjaan yang sempat dilakukan oleh AR Baswedan antara lain:

  • Redaktur harian Sin Tit Po
  • Soeara Oemoem
  • Redaktur Mata Hari
  • Pimpinan Majalah Sadar
  • Wakil Peranakan Arab di BPUPKI
  • Anggota KNIP
  • Menteri Muda Penerangan Kabinet Sutan Syahrir III
  • Anggota Misi Diplomatik di Kairo, Mesir terkait perjuangan pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan Indonesia.
  • Dewan Dakwah Islamiyah di Yogyakarta
  • Persatoean Arab Indonesia
  • AR Baswedan pernah mengumpulkan 40 tokoh Peranakan Hadrami dari berbagai macam latar belakang dalam rangka mendiskusikan sikap mereka terhadap perjuangan kemerdekaan.

Mereka berkumpul di rumah Said Bahilul di Kampung Melayu, Semarang, 4 Oktober 1934.

Selain bicara soal kemerdekaan, mereka berdiskusi perihal usaha penyelesaian gesekan internal yang terjadi antara dua organisasi Islam yaitu Al – Irsyad dan Ar-Rabithah.

Tanggal 5 Oktober 1934, berdasarkan diskusi dan persiapan, AR Baswedan dan partisipan diskusi tersebut mendirikan Persatoean Arab Indonesia (PAI).

PAI yang dibentuk bertujuan untuk mendorong kaum Hadrami keluar dari batas-batas kesukuan dan menerima Indonesia sebagai tanah aiar dan budaya Indonesia sebagai budaya mereka selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

PAI yang didirikan salah satunya oleh AR Baswedan kerap dipandang sebelah mata namun konsisten dalam pergerakan di Indonesia.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved