Kenaikan Harga BBM

Politisi PKS Bereaksi Keras Soal Kenaikan Harga BBM: Presiden Jokowi Menjilat Ludahnya Sendiri!

Politisi PKS, Slamet, menyesali sikap Presiden Jokowi yang tak konsisten soal BBM. Dia pun bereaksi keras karena kesal.

warta kota/fitriandi fajar
Politisi PKS yang berkarier sebagai Anggota DPR RI, Slamet, bereaksi keras atas kebjakan Presiden Jokowi yang menaikkan harga BBM. Menurutnya, itu seperti menjilat lidah sendiri. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dianggap bentuk pengkhianatan Pemerintah Indonesia kepada rakyat.

Dibanding mengucurkan dana untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Provinsi Kalimantan Timur, lebih baik duitnya tetap digunakan untuk BBM bersubsidi karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Anggota Komisi IV DPR RI drh Slamet menyampaikan rasa keprihatinannya atas musibah yang dialami masyarakat saat ini.

Menurut dia, kebijakan mencabut subsidi BBM dan mengalihkannya menjadi bantuan langsung tunai (BLT) sebagai bentuk pengkhianatan pemerintah kepada apa yang mereka sudah katakan selama ini.

“Kita masih ingat betul rasa-rasanya baru beberapa bulan Presiden Jokowi mengatakan bahwa BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir tahun, saat merayakan hari kemerdekaan kita disuguhi tagline, ‘Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat’," ucapnya, Selasa (6/9/2022).

"Namun, faktanya belum sebulan berselang presiden menjilat ludahnya sendiri dengan mencabut BBM bersubsidi!” imbuh Slamet.

Slamet menyindir, penguasa tidak memiliki terobosan dan hanya memiliki dua cara untuk menjaga stabilitas keuangan. Pertama menambah utang negara dan kedua menaikkan harga BBM.

Baca juga: Fahri Hamzah Tidak Setuju BBM Naik Gara-gara Dikonsumsi Mobil Mewah

Padahal, kata dia, ada beberapa proyek infrastruktur yang bisa ditunda pembangunannya seperti pembangunan IKN, kereta cepat dan masih banyak lagi kegiatan lain yang dianggap tidak prioritas.

Karena itu, Slamet menilai, Pemerintah Indonesia sekarang tidak peka terhadap kondisi yang ada, karena keadaan ekonomi global yang sedang tidak stabil, justru tetap fokus membangun IKN dan infrastruktur lainnya.

Pria yang juga menjadi Ketua Umum Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI) ini lalu meminta pemerintah untuk melihat lebih dekat kondisi masyarakat khususnya para petani dan nelayan.

Baca juga: Harga BBM Naik, Subsidi Transportasi Online Dianggap Kurang Tepat karena Hanya Untungkan Aplikator

Kenaikan BBM ini sudah pasti menaikkan semua biaya operasional kegiatan pertanian dan perikanan, mulai dari biaya logistik, biaya makan, biaya hidup dan lain lain.

“Sementara harga jual hasil perikanan dan pertanian sangat fluktuatif, sehingga kondisi ini akan menyeret petani dan nelayan kita ke dalam jurang kemiskinan,” ujar Slamet dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Seperti diketahui, Pemerintah Indonesia menaikkan harga BBM bersubsidi pada Sabtu (3/9/2022). Harga Pertalite naik dari sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter (naik sekitar 31 persen).

Presiden Jokowi menaikkan harga BBM, Sabtu (3/9/2022), ternyata kebijakan itu justru menyengsarakan rakyat.
Presiden Jokowi menaikkan harga BBM, Sabtu (3/9/2022), ternyata kebijakan itu justru menyengsarakan rakyat. (YouTube@Sekretariat Presiden)

Kemudian harga Solar subsidi naik dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 (naik sekitar 32 persen). Adapun harga Pertamax nonsubsidi dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter (naik sekitar 16 persen).

Menurut Jokowi, pemerintahannya tidak kuasa mencegah kenaikan BBM dengan berbagai alasan.

Mulai dari pembengkakan subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia hingga tidak tepatnya arah subsidi yang lebih banyak dinikmati oleh orang kaya.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved