Berita Video

VIDEO Harga Minyak Dunia Turun Harga BBM Malah Naik, Berikut Penjelasan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan alasan pemerintah tetap menaikan harga BBM meski harga minyak dunia sedikit alami penurunan.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Fredderix Luttex

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan alasan pemerintah tetap menaikan harga BBM meski harga minyak dunia sedikit alami penurunan.
Sri Mulyani menjelaskan bahwa saat ini anggaran subsidi BBM di Indonesia telah alami tiga kali kenaikan.
Kenaikan anggaran subsidi didorong dari kenaikan harga minyak dunia yang terdampak dengan kondisi global yang tidak menentu.
Puncaknya, di tahun ini pemerintah menggelontorkan Rp502,4 triliun untuk subsidi BBM, gas, dan listrik.


Kata Sri Mulyani, angka Rp502,4 triliun itu dihitung berdasarkan rata-rata ICP yang bisa capai 500 dolar perbaler dengan kurs Rp14.700 perdolar Amerika Serikat.
Sementara volume pertalite di tahun ini hampir dua kali lipat lebih besar dari volume solar subsidi.
Volume penggunaan solar hanya 17,44 juta perkilo liter sedangkan volume pertalite mencapai 29 juta perkilo liter.
Kata Sri Mulyani, dengan kenaikan harga BBM ini, masyarakat akan bertanya kenapa harga BBM tetap naik di tengah penurunan harga minyak dunia dalam sebulan terakhir.

Baca juga: Saat Presiden Jokowi Bahas Kenaikan Harga BBM, Puan Maharani Bertemu Menteri Ekonomi Jepang


Baca juga: Harga BBM Naik Jadi Upaya Terakhir Presiden Jokowi Karena Gejolak Harga Minyak Dunia Semakin Tinggi
Sri Mulyani memastikan pemerintah terus melakukan penghitungan dalam kenaikan harga BBM.
Ia menjelaskan, meskipun harga minyak dunia alami penurunan, angka itu tetap tidak sesuai dengan keekonomian harga BBM di Indonesia.

Baca juga: VIDEO Dampak Kenaikan BBM, Pemerintah Kucurkan Dana BLT Rp 600 Ribu


Di mana harga minyak berdasarkan Indonesian Crude Price (ICP) yang turun 90 dolar sekalipun maka harga rata-rata satu tahun ICP masih 98,8 atau hampir 99 dolar.
ICP adalah harga rata-rata minyak mentah Indonesia di pasar internasional yang dipakai sebagai indikator perhitungan bagi hasil minyak, ditetapkan setiap bulan dan dievaluasi setiap semester.
Dalam APBN 2022, ditetapkan asumsi ICP US$ 63 per barel, lalu menjadi US$ 100 per barel dalam APBN-P 2022.

Baca juga: Tak Butuh Lama, Perusahaan Otobus Langsung Kerek Harga Tiket Bus AKAP, Buntut Kenaikan Harga BBM


“Atau kalaupun harga minyak turun sampai di bawah 90 maka keseluruhan tahun rata-rata ICP Indonesia masih 97 dolar perbarel,” jelas Sri Mulyani.
Sehingga kata Sri Mulyani dengan penghitungan ini maka angka kenaikan subsidi dari Rp502 triliun tetap akan terjadi.
Namun kenaikannya bisa ditekan dari Rp698 triliun menjadi Rp653 triliun apabila ICP di harga 90 dolar perbarel hingga Desember 2022 nanti.

Baca juga: Pengamat Menilai Kepercayaan Publik pada Presiden Jokowi Jatuh Akibat Kenaikan Harga BBM


Pun kata Sri Mulyani, pembengkakan subsidi akan tetap terjadi apabila penurunan ICP hingga 85 dolar perbarel hingga Desember.
Maka Subsidi BBM akan membengkak menjadi Rp640 triliun.
Kata Sri Mulyani, pemerintah sampai saat ini masih memonitor perkembangan ICP dan suasana geopolitik dunia.
Sampai saat ini kata Sri Mulyani penurunan harga minyak dunia juga tidak bisa dipastikan lantaran masih dinamis.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved