IFS Usung Nilai Busana Betawi dan Kehidupan Urban Jakarta di Ajang JF3 Fashion Festival

Italian Fashion School (IFS) mengusung Nilai Busana Betawi dan Kehidupan Urban Jakarta Indonesia di ajang JF3 Fashion Festival 2022 di Summarecon Mall

Dok. JF3 Fashion Festival
Italian Fashion School (IFS) mengusung Nilai Busana Betawi dan Kehidupan Urban Jakarta Indonesia di ajang JF3 Fashion Festival 2022 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Italian Fashion School (IFS) mengusung Nilai Busana Betawi dan Kehidupan Urban Jakarta Indonesia di ajang JF3 Fashion Festival 2022 di Summarecon Mall Kelapa Gading.

Dalam perhelatan kali ini, ada 5 murid IFS yang akan berpartisipasi. Kelimanya adalah Amelia NS; Dina Mulya Sophieyadi; Maharani Dewi Armala; Mitha Tri Novianti; dan Theresia Dewi.

Kelima orang murid IFS tersebut memproduksi karya-karya mereka terinspirasi dari bermacam-macam kebudayaan khas Betawi sebagaimana tema yang diusung, IFS Urbanize Batavia.

Baca juga: JF3 Fashion Festival 2022 Dukung Industri Mode Tanah Air Melalui Pelestarian Budaya

Founder IFS Diora Agnes mengatakan seperti tema besar yang diangkat JF3 yakni Cultural Diversity, murid-murid IFS yang berbakat akan memperagakan fashion khas dari Betawi.

“Kami memilih tema dan mengangkat busana khas Betawi karena masih banyak yang bisa dieksplorasi dari kebudayaan Betawi,” ujar Diora, berdasar keterangan tertulis, Minggu (4/9/2022).

“Salah satunya soal pakaian. Murid-murid kami memproduksi karya-karya mereka dari khasanah kebudayaan Betawi itu,” kata Founder IFS lainnya Paska Ryanti.

Diora mengatakan tema IFS Urbanize Batavia menggambarkan anomali kebudayaan di Jakarta di tengah perkembangan zaman yakni pertemuan antara konteks keurbanan dengan tradisi.

Baca juga: PINTU Incubator Hadirkan Tujuh Brand Fesyen Indonesia di JF3 Fashion Festival 2022

Ini menjadi sebuah konsep desain yang tidak hanya hanya terinspirasi dari keindahan budaya Betawi, juga dari semangat masyarakat kota Jakarta yang optimistis, kreatif dan inovatif.

“Selain bagian dari tugas akhir murid, ini juga menampilkan kreasi inovatif dari siswa-siswi IFS yang akan menjadi cikal bakal designer atau pelaku industri kreatif di dunia fashion,” ujar CEO PT Modesta Desain Indonesia yang membawahi IFS itu.

Berdasarkan semua itu, IFS ingin menunjukkan busana tradisional itu tidak sekadar kebudayaan yang ditunjukkan pada hari-hari tertentu karena berhubungan dengan nilai, asal usul kehidupan dan ungkapan hubungan dengan masyarakat.

“Kita juga akan merasakan kepuasaan lebih saat memakai fashion yang berkaitan dengan tradisi kita. Maka, bukankah fashion seharusnya begitu, bukan?” kata Diora.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved