Kenaikan Harga BBM

Bak Buah Simalakama, YLKI Catat Empat Poin Penting Tanggapi Kenaikan Harga BBM

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menanggapi kenaikan harga BBM solar, pertalite, pertamax yang mendadak bak buah simalakama bagi pemerintah.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Junianto Hamonangan
tribunnews
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menanggapi kenaikan harga BBM solar, pertalite, pertamax yang mendadak bak buah simalakama bagi pemerintah. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menanggapi secara keras kenaikan harga BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar serta BBM non-subsidi pertamax 92.

Menurut Tulus, kenaikan harga BBM tersebut bak 'buah simalakama' bagi pemerintah karena di satu mengurangi subsidi yang semakin membengkak sementara pada sisi lain memberatkan masyarakat.   

"Kebijakan menaikkan harga BBM bak buah simalakama. Tak dinaikkan, finansial APBN makin bleeding dan akan mengorbankan sektor lain. Jika dinaikkan, potensi efek dominonya sangat besar, berpotensi memukul daya beli masyarakat konsumen, yang ditandai dengan tingginya inflasi," ucap Tulus melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (3/9/2022).

Tulus mencatat empat poin penting yang dinilainya harus diperhatikan pemerintah setelah secara resmi mengumumkan kenaikan BBM pada pukul 14.30 WIB siang tadi.

Baca juga: Bandingkan dengan Zaman SBY, Pengendara di Bekasi Keluhkan Kenaikan Harga BBM Era Jokowi Mendadak

"Pemerintah harus menjamin bahwa rantai pasok komoditas bahan pangan tidak terdampak secara signifikan paska kenaikan harga BBM. Jalur jalur distribusi harus lebih disederhanakan dan dilancarkan, sehingga tidak menjadi kedok untuk menaikkan harga bahan pangan. Jangan jadikan kenaikan harga BBM untuk aji mumpung menaikkan komoditas pangan, dan komoditas lainnya," tuturnya.

Kedua, pemerintah Pusat dan pemerintah daerah harus tetap memberikan subsidi pada angkutan umum, atau insentif lainnya.

Sehingga apabila tarif angkutan umum mengalami kenaikan paska kenaikan harga BBM, kenaikan tarifnya tidak terlalu tinggi.

Tingginya kenaikan angkutan umum, dinilainya justru akan kontra produktif bagi nasib angkutan umum , karena berpotensi ditinggalkan konsumennya yang berpindah ke kendaraan pribadi.

Baca juga: Jokowi Umumkan Kenaikan Harga BBM, SPBU di Kawasan Gunung Sahari Jakarta Pusat Ditutup Sementara

"Lalu, kenaikan harga BBM harus diikuti upaya mereformasi pengalokasian subsidi bbm. Artinya penerima subsidi bbm benar benar pada masyarakat yang berhak, by name by address, bukan seperti sekarang. Menurut kajian Bank Dunia, 70 persen subsidi bbm tidak tepat sasaran, karena dinikmati kelompok menengah dan mampu. fenomena ini tidak boleh dibiarkan," ungkap Tulus.

Kemudian, ia menilai pemerintah harus bersiasat untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah sehingga jika harga minyak mentah naik, maka tidak serta merta harga BBM di dalam negeri harus dinaikkan.

Sebelumnya, pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar serta BBM non-subsidi Pertamax 92 yang akan diberlakukan pada Sabtu (3/9/2022) ini, pukul 14.30 WIB.

Adapun tarif baru yang berlaku yakni, Pertalite dari harga Rp7.650 naik menjadi Rp10.000 per liter, solar dari harga Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter. Kemudian Pertamax 92 dari harga Rp12.500 naik menjadi Rp14.500. (abs)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved