Opini

Rekonstruksi Ferdy Sambo, Apakah Diatur dalam KUHP dan Bisa Ungkap Kasus Sebenarnya?

Apa itu rekonstruksi dan apakah rekonstruksi kasus polisi tembak polisi dengan tersangka Irjen Ferdy Sambo bisa ungkap peristiwa sesungguhnya?

Editor: Suprapto
Capture video
Apa itu rekonstruksi dan apakah rekonstruksi kasus polisi tembak polisi dengan tersangka Irjen Ferdy Sambo bisa ungkap peristiwa sesungguhnya? Foto: Putri Candrawathi dan Irjen Ferdy Sambo 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Rekonstruksi bukan lah alat bukti. Begitu hukum mengatur.

Apakah rekonstruksi, seperti rekonstruksi tersangka Irjen Pol Ferdy Sambo,  akan mengungkap kebenaran? Bisa ya, bisa tidak. Coba bayangkan ada kasus pembunuhan dengan 4 tersangka, yang keterangannya saling bertentangan.

Si A bilang B yang menembak, B bilang C lah yang menembak. C menyebut D lah pelakunya. D mengaku tak berada di tempat kejadian. Si D malah menolak ikut dalam rekonstruksi. Tersangka berhak menolak.

Tidak ada satu pun pasal di KUHAP yang mewajibkan tersangka ikut rekonstruksi. Bisa gak dibayangkan, seperti apa kira2 rekonstruksi nya? Bisa gak dibayangkan kebenaran apa yang bisa terungkap dari rekonstruksinya, kalau tetap dilaksanakan.

Atau contoh lain, seandainya ke-4 tersangka justru punya cerita yang saling dukung. Mereka bersekongkol menyatakan  dalam kasus ini yang terjadi adalah tembak menembak antara B dengan korban, taruhlah seperti yang dua bulan lalu diberitakan itu. Apakah rekonstruksi yang mereka peragakan hasil persengkokolan itu adalah kebenaran ?

Ini yang harusnya dijelaskan media. Rekonstruksi hanya lah salah satu cara atau metode penyidikan.

Rekonstruksi hanya berguna jika semua keterangan tersangka dan saksi bersesuaian dan sejalan dengan bukti-bukti lain. Gunanya membantu penyidik menyusun cerita buat jaksa yang akan mengajukan dakwaan.

Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, mengumbar kemesraan saat menjalani rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Selasa (30/8/2022).
Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, mengumbar kemesraan saat menjalani rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Selasa (30/8/2022). (YouTube@POLRI TV RADIO)

Rekonstruksi bahkan tak diatur KUHAP. Yang mengatur hanya SK dan aturan Kapolri untuk jajarannya

Artinya, hakim yang kelak memgadili kasus ini, juga tidak terikat dan tak wajib menggubris hasil rekonstruksi. Hakim bahkan bisa juga mengulang, bukan rekonstruksi namanya tapi pemeriksaan setempat.

Hakikatnya sama, cuma tujuannya membantu membangun keyakinan hakim sebelum memutus perkara. Jadi buat apa membesar-besarkan pentingnya rekonstruksi mengungkap kebenaran?

Lebih bagus misalnya kalau mau kepo, media bersoal bagaimana strategi pengajuan kasus ini. Apakah jadi satu berkas, atau di-split alias dipisah-pisah.

Saksi Mahkota

Baca juga: LPSK: Saat Rekonstruksi, Bharada Eliezer Bilang Ferdy Sambo Tembak Brigadir Yosua dari Belakang

Apakah kasus pembunuhan ini akan diungkap hanya berdasarkan keterangan para saksi yang juga tersangka  atau biasa disebut saksi mahkota.

Tahu kah teman-teman bahwa Mahkamah Agung berpendapat, pengajuan saksi mahkota adalah pelanggaran hak asasi manusia sebagaimana diatur Kovensi HAM PBB.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved